Jumat, 15 Mei 2015

MAKALAH PERPADUAN ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA


BAB I
PEMBAHASAN
      A.    PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN
Pengertian ilmu, kata ilmu merupakan terjemah dari kata science, yang secara etimologi berasal dari kata latin scire, yang artinya to know. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam, yang sifatnya kuantitatif dan objektif.[1]
Ilmu adalah hasil dari pengalaman manusia dari suatu penelitian dengan melalui penelitian, dan eksperimen yang akhirnya mengambil suatu hipotesis lalu menentukan suatu kesimpulan deduktif dan induktif. Ilmu disusun berdasarkan bahasa, logika yang dapat membantu manusia memecahkan suatu masalah.[2]
Pengertian pengetahuan secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Sedangkan secara terminology ialah menurut Gazalba, pengetahuan adalah apa yang di ketahui atau usaha pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai.Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran.[3]
Pengetahuan dikategorikan kepada tiga jenis :
1.      Pengetahuan inderawi, yaitu ini meliputi semua fenomena yang dapat dijangkau secara langsung oleh pancaindra.
2.      Pengetahuan keilmuan, yakni meliputi semua fenomena yang dapat diteliti dengan riset atau eksperimen, bisa dijangkau oleh rasio, atau otak dan pancaindra.
3.      Pengetahuan falsafi, yakni mencakup segala fenomena yang tak dapat diteliti, tetapi dapat dipikirkan.[4]
Imam ghazali membagi pengetahuan itu kepada tiga tingkat, yaitu pertma, Pengetahuan orang awam, maksudnya orang awam menerima pengetahuan tanpa mau menyelidiki. Contohnya, Ada orang yang mengatakan di rumah itu ada orang. Orang awam, tanpa menyelidiki kebenaran secara langsung percaya saja. Kedua, Intelektual , yaitu mereka akan menyelidiki kebenaran berita tersebut dengan mengadakan analisa data-data yang ada. Apakah benar ada orang di sekitar rumah itu. Ketiga, Para Sufi, mendapatkan berita yang seperti itu, tidak menerima saja dan tidak juga meneliti data-data yang membenarkan berita  tersebut, tetapi langsung membuka pintu rumah, sehingga mereka dapat melihat langsung orang di dalamnya.[5]
Burhanuddin  Salam mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat, yaitu:
1.      Pengetahuan biasa,yakni pengetahuan yang dalam filsafat dkatakan dengan istilah coomonsens Dan sering diartikan dengan good sense, karena   seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik.
2.      Pengetahuan ilmu, yakni ilmu sebagai terjemahan dari science.Dalam pengertian yang sempit scince diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam, yang sifat yang kuantitatif pada objektif.[6]
3.      Pengetahuan agama, yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari tuhan lewat Rasul-rasulnya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama.
4.      Keempat, pengetahuan filsafat, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universal dan ke dalam dan kajian tentang sesuatu.[7]
B.  PENGERTIAN ILMU AGAMA
Pengertian agama, ada tiga istilah yang dikenal tentang agama, yaitu agama, religi, dan din. Secara etimologi, kata agama berasala dari bahasa sangsekerta, yang berasal dari akar kata a dan gama.  A artinya tidak dan gama kacau. Jadi agama artinya tidak kacau atau teratur. Maksud agama adalah peraturan yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya.
Sedangkan kata religi ialah suatu tata kepercayaan atas adanya yang agung di luar manusia, dan suatu tata penyembah kepada yang agung tersebut.
Dan kata din ialah patuh dan taat, undang-undang, peraturan dan hari kemudian. Maksudnya, orang-orang yang ber din ialah orang yang patuh dan taat terhadap peraturan dan undang-undang Allah untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat.[8]
Menurut Edgar sheffield   Brightiman agama ialah suatau unsur mengenai pengalaman-pengalaman yang dipandang nilai yang tertinggi, pengabdian kepada suatu kekuasaan-kekuasaan yang di percaya sebagai sesuatau yang terjadi asal muala yang menambah dan melestarikan nilai-nilai, dan  sejumlah ungkapan yang sesuai tentang urusan serta pengabdian tersebut, baik dengan jalan melakukan upacara-upacara yang simbolis maupun melalui perbuatan-perbuatan yang lain yang bersifat perseorangan, dan kemasyarakatan.[9]
C.    SUMBER-SUMBER PENGETAHUAN
1.      Empiris
Pengalaman yang di maksud ialah pengalamn inderawi. Pancaindra mendapatkan kesan-kesan dari apa yang ada di alam nyata dan kesan-kesan itu berkumpul dalam diri manusia. Menurut Hume pengalamanlah yang memberikan informasi yang langsung dan pasti terhadap objek yang di amati sesuai dengan waktu dan tempat.[10]
Pengetahuan inderawi dan akal, menurut Al-Ghazali, tidak bisa diyakini kebenarannya. Pancaindra sering berbohong karena bayangan pohon yang dianggap oleh mata tidak bergerak, ternyata dalam waktu tertentu berpindah tempat. Akal juga demikian, ketika seseorang bermimpi tentang sesuatu, dia merasakan bahwa kejadian itu benar-benar ada dan terjadi. Namun, ketika dia bangun hal itu tidak ada sama sekali. Karena itu, Al-Ghazali menggambarkan kehidupan dunia ini bagaikan orang tidur, nanti kalau di akhirat setelah mati mereka bangun dan sadar bahwa apa yang di dunia ini semuanya berupa mimpi.[11]
2.      Rasionalisme
Rasionlisme, aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengrtahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur  dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
3.      Intuisi
Intuisi, menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi bebeda dengan kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini memerlukan suatu usaha. Ia juga mengatakan bahwa intuisi adalah suatu pengetahuan yang langsung, yang mutlak dan bukan pegetahuan yang nisbi.
 Dalam tasawuf, intuisi disebut dengan ma’rifah, yaitu pengetahuan yang datang dari Allah melalui pencerahan dan penyinaran.
Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secra teratuur, intuisi tidak dapat diandalakn. Pengetahuan dapat dipergunakan sebgaai hipotesa bagi analisis selanjutnya dalam mnentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakan. Kemampuan menrima pengetahuan seacra langsung itu diperoleh dengan cara latihan yang dalam istilah disebut Riyadhah. metode ini secara umum dipakai dalam thariqat atau Tasawuf. Konon, kemampuan orang-orang itu sampai bisa melihat tuhan, berbincang dengan tuhan, melihat surga, neraka, dan alam gaib lainnya.
4.      wahyu
wahyu, adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah swt kepada manusia lewat perantara para Nabi. Para Nabi memperoleh pengetahuan dari Tuhan tanpa upaya, tanpa berusha payah, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semesta . tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkannya pula jiwa mereka unutk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu.[12]

D.    SUMBER-SUMBER ILMU AGAMA
1.      Alqu’an
Al-Qur’an merupakan sumber ajaran islam yang pertama dan utama. Al-Qur’an adalah kitab suci yang memuat firman-firman, sama benar dengan yang disampaikan oleh malaikat jibril kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, mula-mula turun di Mekkah kemudian di madinah.
Al-Qur’an yang menjadi sumber nilai dan norma umat islam itu terbagi ke dalam 30 juz, 114 surat lebih dari 6.000 ayat, 74.499 kata atau 325.345 huruf. Tentang jumlah ayat ada perbedaan pendapat di antara para ahli ilmu Al-Qur’an.
Dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an yang turun sedikit demi sedikit selama 23 tahun(dibulatkan) yang isinya antara lain : 1. Pentujuk mengenai aqidah yang harus diyakini oleh manusia. 2. Petunjuk mengenai syari’at yaitu jalan yang harus diikuti manusia dalam berhubungan dengan Allah dan sesame manusia. 3. Petunjuk akhlak, mengenai yang baik dan buruk. 4. Kisah-kisah umat manusia di zaman masa lalu.[13]5. Janji dan ancaman. 6. Konsep ilmu pengetahuan, pengetahuan tentang masalah ketuhanan, manusia, masyarakat maupun tentang alam semesta.
2.      As-Sunnah
Etimologi,  jalan / tradisi, kebiasaan, adat istiadat, dapat juga berarti undang-undang yang berlaku.
Terminologi, berita / kabar, segala perbuatan, perkataan dan takrir ( keizinan / pernyataan ) Nabi Muhammad saw.
Kedudukan As-Sunnah apabila As-Sunnah / Hadits tidak berfungsi sebagai sumber hukum, maka kaum muslimin akan mengalami kesulitan-kesulitan seperti :
1. Melaksanakan Shalat, Ibadah Haji, mengeluarkan Zakat dan lain sebagainya, karena ayat al-Qur’an dalam hal tersebut hanya berbicara secara global dan umum, sedangkan yang menjelaskan secara rinci adalah as-Sunnah / Hadits.
2. Menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, untuk menghindari penafsiran yang subyektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
3. Mengikuti pola hidup Nabi, karena dijelaskan secara rinci dalam Sunnahnya, sedangkan mengikuti pola hidup Nabi adalah perintah al-Qur’an.
4. Menghadapi masalah kehidupan yang bersifat teknis, karena adanya peraturan-peraturan yang diterangkan oleh as-Sunnah / Hadits yang tidak ada dalam al-Qur’an seperti kebolehan memakan bangkai ikan dan belalang, sedangkan dalam al-Qur’an menyatakan bahwa bangkai itu haram.[14]

3.      Ijma’
Ijma’ ialah kesepakatan semua mujtahid dari ijma’ umat Muhammad Saw. Dalam suatau masa setelah beliau wafat terhadap hokum syara’.
Pengertian di atas dapat diketahui ijma’ bisa terjadi bila memenuhi kriteri yaitu: 1. Yang bersepakat adalah para Mujtahid. 2. Bersepakat seluruh Mujtahid. 3. Mujtahid Harus Umat Muhammad Saw. 4. Dilakukan setelah Wafatnya Nabi. 5. Kesepakatan mereka harus berhubungan dengan syara’.[15]
4.      Qiyas
Qiyas ialah merupakan ciptakan manusia, yakni pandangan mujtahid.  Penunjukan Abu Bakar Imam di Qiyaskan pada penunjukan beliau sebagai khalifah dan hal itu disepakati oleh semua sahabat, jelaslah bahwa qiyas merupakan landasan hokum ijma’.[16]

E.     INTERKONEKSI ANTARA ILMU PENGETAHUAN, AGAMA DAN AKHLAK
Perpaduan ilmu pengetahuan dengan agama dan akhlak dikonsepkan oleh Al Ghazali sebagi al ma’rifah. Al Ghazali menerangkan jalan menuju ma’rifah sebagai kerinduan rohani untuk mengenal Tuhan dengan hati nurani melalui tingkat-tingkat ilmu pengetahuan. Al ma’rifah menjadi tingkat yang tertinggi di dalam pengetahuan dan kesadaran rohani manusia terhadap Tuhan.
Al Ghazali mengemukakan hubungan yang erat dan tak terpatahkan antara ilmu pengetahuan dengan agama dan akhlak. Hubungan inilah yang sedang dicari kembali dalan dunia ilmu pengetahuan modern terutama dalam bahasan mengenai islamisasi ilmu pengetahuan. Mengingat adanya kebutuhan kembali pada agama karena perkembangan jiwa manusia yang semakin lama semakin memprihatinkan, bahasan mengenai mengenal Tuhan lewat ilmu pengetahuan adalah tema yang penting.
Manusia modern dinilai telah sangat rasional. Maka, ilmu pengetahuan sudah selayaknya menjadi jalan utama mengenal Tuhan, untuk menjadi insan kamil atau manusia yang sempurna.
Konsep tentang ma’rifah menjadi dasar penjelasan Al Ghazali dalam teorinya tentang “ilmu pengetahuan yang sejati”. Ia mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan tanpa amal adalah gila, sedangkan amal tanpa ilmu adalah tidak sah. Ilmu pengetahuan semata-mata tidak menjauhkan dari berbuat dosa dan kejahatan, dan tidak pula mendekatkan kepada perbuatan taat dan kebaikan sewaktu hidup di dunia. Sedangkan untuk akhirat, ilmu itu tidak sanggup membebaskan manusia dari hukuman neraka.
Al Ghazali menegaskan bahwa seseorang yang telah mencapai tingkat arifin atau ma’rifah adalah mereka yang menyatupadukan ilmu pengetahuan dengan keimanan (agama), sehingga mereka memiliki hasrat untuk beramal dengan sesungguhnya dan mewujudkan pendidikan akhlak.[17]

BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Ilmu adalah hasil dari pengalaman manusia dari suatu penelitian dengan melalui penelitian, dan eksperimen yang akhirnya mengambil suatu hipotesis lalu menentukan suatu kesimpulan deduktif dan induktif. Ilmu disusun berdasarkan bahasa, logika yang dapat membantu manusia memecahkan suatu masalah.
A artinya tidak dan gama kacau. Jadi agama artinya tidak kacau atau teratur. Maksud agama adalah peraturan yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya.
Sumber ilmu, empiris, Rasionalisme, Intuisi, Wahyu.dan sedangkan sumber agama ialah Al-Aqur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.
Saran
Dari makalah di atas sangat jauh dari sempurna, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran. Yang dimana sifatnya membangun untuk kesempurnaan makalah. Dan penulis menyadari bahwa masih sangat banyak kesalahan dari segi bahasa utamanya dari segi  sastra bahasa, dan susunan kata. Demikian. Maka itu penulis demi kesempurnaan makalah ini.   

REFERENSI
Burhanuddin. Logika Material FilsafatIlmu Pengetahuan.(RinekaCipta, Cet. Ke- I. Jakarta. 1997). 
Syafaruddin. Filsafat Ilmu Mengembangkan Kerativitas Dalam Proses Keilmuan.(Cita Pustaka Media Perintis, Cet-Kedua. 2010).  
Amsal Bakhtiar. Filasafat Ilmu. (Pt. Raja Grafindo Persada, Cet. Ke-10. Jakarta. 2011)
Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama Wisata Pemikiran Dan Kepercayaan Manusia.(Pt.Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2009).
Lely Risnayati Daulay. Bahan Filsafat Umum Pendidikan Agama Islam. (Medan September, 2011).
Inu kencana Syafi’i.  filsafat Kehidupan.( Bumi Aksara,  Cet,. Ke-1. Jakarta, 1995).
Mohammad Al-Farabi. Metode Study Islam. (Medan 1 september. 2012).
http://blog-madesu.blogspot.com/2013/02/sumber-sumber-ajaran-dasar-agama-islam.html
Rachmat Syafe’i. Ilmu Ushul Fiqih. (Pustaka Setia Bandung, Cet ke-IV. 2010).
http://pemikiranibnukhaldun.blogspot.com/2011/04/ilmu-pengetahuan-agama-dan-akhlak.html



[1]Burhanuddun. Logika Material FilsafatIlmuPengetahuan.(RinekaCipta, Cet. Ke- I. Jakarta. 1997).Hlm. 29-30  
[2] Syafaruddin. Filsafat Ilmu Mengembangkan Kerativitas Dalam Proses Keilmuan.(Cita Pustaka Media Perintis, Cet-Kedua. 2010). Hlm. 36.  
[3] Amsal Bakhtiar. Filasafat Ilmu. (Pt. Raja Grafindo Persada, Cet. Ke-10. Jakarta. 2011). Hlm.85
[4] Ibid, Hlm. 30-31.
[5] Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama Wisata Pemikiran Dan Kepercayaan Manusia.(Pt.Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2009). Hlm. 51.
[6] Ibid. Hlm. 87.
[7]  Burhanuddun. Logika Material FilsafatIlmuPengetahuan.(RinekaCipta, Cet. Ke- I. Jakarta. 1997).Hlm.28.
[8] Lely Risnayati Daulay. Bahan Filsafat Umum Pendidikan Agama Islam. (Medan September, 2011). Hlm. 23-24.
[9] Inu kencana Syafi’i.  filsafat Kehidupan.( Bumi Aksara,  Cet,. Ke-1. Jakarta, 1995). hlm.55. 
[10] Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama Wisata Pemikiran Dan Kepercayaan Manusia. (Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2009). Hlm. 41-43. 
[11] Ibid, hlm. 52.
[12] Amsal Bahkiar, filsafatIlmu,(Pt Raja GrafindoPersada,  Cet. Ke- 10 Jakarta. 2011). Hlm. 98-109
[13] Mohammad Al-Farabi. Metode Study Islam. (Medan 1 september. 2012). Hlm. 99-101
[14]  http://blog-madesu.blogspot.com/2013/02/sumber-sumber-ajaran-dasar-agama-islam.html
[15] Rachmat Syafe’i. Ilmu Ushul Fiqih. (Pustaka Setia Bandung, Cet ke-IV. 2010). Hlm. 69-71.
[16] Ibid, hlm. 86-88.
[17] http://pemikiranibnukhaldun.blogspot.com/2011/04/ilmu-pengetahuan-agama-dan-akhlak.html

MAKALAH TENTANG AKHLAK


BAB I
PENDAHULUAN

    A.   LATAR BELAKANG
Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung pada bagaimana akhlaknya. Apabila baik akhlaknya, maka sejahteralah lahir batinnya, apabila rusak akhlaknya, maka rusaklah lahir batinnya.
Konsep akhlaqul karimah adalah konsep hidup yang lengkap dan tidak hanya mengatur hubungan antara manusia, alam sekitarnya tetapi juga terhadap penciptaannya. Allah menciptakan ilmu pengetahuan bersumber dari Al-Quran. Namun, tidak semua orang mengetahui atau percaya akan hal itu. Ini dikarnakan keterbatasan pengetahuan manusia dalam menggali ilmu-ilmu yang ada dalam Al-Quran itu sendiri . Oleh karna itu,  permasalahan ini diangkat, yakni keterkaitan akhlak islam dengan ilmu yang berdasarkan Al-Quran dan Hadits.

B.     RUMUSAN MASALAH
Untuk mempermudah pembahasan, dalam makalah ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa pengertian akhlak?
2.      Apa landasan hukum tentang akhlak?
3.      Apa saja ruang lingkup ajaran akhlak?
4.      Apa saja kegunaan mempelajari akhlak?
5.      Berapa dan berapa pembagian akhlak?
6.      Apa aspek-aspek yang mempengaruhi akhlak?
7.      Apa karakteristik ajaran akhlak dalam dunia sains?
8.      Bagaimana hubungan akhlak dengan keadilan dan sains modern?
Permasalahan di atas akan menjadi sasaran pembahasan makalah ini, dengan harapan pembahasan yang kami lakukan menjadi terarah.


C.    TUJUAN MAKALAH
Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian akhlak
2.      Untuk mengetahui landasan hukum tentang akhlak
3.      Untuk mengetahui ruang lingkup ajaran akhlak
4.      Untuk mengetahui kegunaan mempelajari akhlak
5.      Untuk mengetahui Pembagian akhlak
6.      Untuk mengetahui aspek-aspek yang mempengaruhi akhlak
7.      Untuk mengetahui karakteristik ajaran akhlak dalam dunia sains
8.      Untuk mengetahui hubungan akhlak dengan keadilan dan sains modern




















BAB II
AKHLAK

A.    PENGERTIAN AKHLAK
Secara bahasa, pengertian akhlak diambil dalam bahasa arab yang berarti:
1)      Perangai, tabiat, adat (diambil dari kata dasar khuluqun).
2)      Kejadian, buatan, ciptaan (diambil dari kata khalqun)[1]
Secara etimologis akhlak adalah:
1)      Ibn Maskawaih dalam bukunya Tahdzib Al-Akhlaq, beliau mendefenisikan akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan.[2]
2)      Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin menyatakan bahwa akhlak adalah gambaran tingkah laku dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatannya dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[3]
Dari dua defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu perbuatan atau sikap dapat dikategorikan akhlak apabila memenuhi kriteria berikut ini:
1)      Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah terjadi kepribadiannya.
2)      Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran.
3)      Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa paksaan atau tekanan dari luar.
4)      Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main, atau karena sandiwara.[4]



B.     LANDASAN HUKUM TENTANG AKHLAK
1.      Al-Quran

#rßç6ôã$#ur ©!$# Ÿwur (#qä.ÎŽô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«øx© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) ÉÎ/ur 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur Í$pgø:$#ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# Í$pgø:$#ur É=ãYàfø9$# É=Ïm$¢Á9$#ur É=/Zyfø9$$Î/ Èûøó$#ur È@Î6¡¡9$# $tBur ôMs3n=tB öNä3ãZ»yJ÷ƒr& 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä `tB tb%Ÿ2 Zw$tFøƒèC #·qãsù
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. An-nisa: 36)
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS. Ali-Imron: 104)

2.      Hadits
عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال : لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم فَاحِشاً وَلاَ مُتَفَحِّشاً وَكَانَ يَقُوْلُ : إِنَّ مِنْ خِيَارُكُمْ أَحْسَنُكُمْ أًخْلاَقاً )رواه البخاري(
Artinya: Dari Abdullah bin Amru  berkata: Nabi  tidak pernah berbuat keji sendiri tidak pula berbuat keji kepada orang lain. Beliau bersabda: “Sesungguhnya termasuk sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Bukhari)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أكثر ما يدخل الناس الجنة؟ فقال : تقوى الله وحسن الخلق، وسئل عن أكثر ما يدخل الناس النار؟ فقال : الفم والفرج. رواه الترمذي وابن حبان في صحيحه والبيهقي في الزهد وغيره، وقال الترمذي: حديث حسن صحيح غريب.
Artinya: Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah saw ditanya tentang hal yang paling banyak memasukan manusia ke dalam surga? Rasulullah saw menjawab: Taqwa kepada Allah, akhlak yang baik. Kemudian Rasulullah SAW ditanya kembali tentang hal yang paling banyak memasukan manusia kedalam neraka? Rasulullah saw menjawab: mulut dan farji’ (kemaluan). (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hiban dalam sahihnya dan Baihaqi dalam Bab zuhud dan selainnya, dan Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih gharib)

 وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما : قال :لَمْ يَكُنْ رَسولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم فَاحِشا ، وَلا مُتَفَحِّشا ، وكان يقول : إِنَّ مِنْ خِيَارِكم أَحْسَنُكُمْ أَخْلاقا. )رواه البخاري ، ومسلم ، والترمذي(
Artinya: “Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash r.a berkata: Tidaklah Rasulullah itu orang yang keji dan tidak pula orang yang berkata keji. Dan beliau bersabda: Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling di antara kalian akhlaknya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmizdi)

C.    RUANG LINGKUP AJARAN AKHLAK
Ruang lingkup ajaran akhlak adalah sama dengan ruang lingkup ajaran islam itu sendiri, khususnya berkaitan dengan pola hubungan.
  1. Akhlak terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah adalah yang dapat diartikan sebagi sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khaliq. Abuddin Nata menyebutkan sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah, yaitu:
a)      Karena Allah menciptakan manusia
b)      Allah telah memberikan perlengkapan panca indera
c)      Allah telah mnyediakan bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti udara, air dan lainnya.
d)     Allah telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan.[5]
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berakhlak kepada Allah dan kegiatan menanamkan nilai-nilai akhlak kepada Allah yang sesungguhnya akan membentuk pendidikan keagamaan. Diantara nilai-nilai ketuhanan yang sangat mendasar adalah:
a)      Iman. Yaitu, sikap batin yang penuh kepercayaan kepada tuhan. Jadi, tidak hanya cukup dengan kata percaya. Namun, harus terus meningkat menjadi sikap mempercayai tuhan dan menaruh kepercayaan kepada-Nya.
b)      Ihsan. Yaitu, kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa Allah senantiasa hadir atau bersama manusia dimanapun manusia berada. Berkaitan dengan ini dan karena menginsafi bahwa allah selalu mengawasi manusia, maka manusia harus berbuat, berlaku dan bertindak menjalankan sesuatu dengan sebaik mungkin dan penuh rasa tangguh jawab, tidak hanya sekedarnya saja.
c)      Takwa. Yaitu, sikap yang sadar penuh bahwa Allah selalu mengawasi manusia. Kemudian, manusia selalu berusaha untuk melakukan sesuatu yang diridhai Allah, dengan menjauhi atau menjaga diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah. Taqwa inilah yang mendasari budi pekerta luhur (akhlakul karimah).
d)     Ikhlas. Yaitu, sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan, semata-mata demi memperoleh keridahaan Allah dan bebas dari pamrih lahir dan batin.
e)      Tawakkal. Yaitu, sikap senantiasa bersandar kepada Allah dengan penuh harapan kepada-Nya dan  berkeyakinan bahwa Dia akan menolong manusia dalam mencari dan menemukan jalan yang terbaik.
f)       Syukur. Yaitu, sikap penuh rasa terima kasih dan pengahargaan atas semua nikmat yang tak terbilang banyaknya yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia.
g)      Sabar. Yaitu, sikap tabah menhadapi segala kepahitan hidup, besar dan kecil, lahir dan batin dan lainnya.

  1. Akhlak terhadap sesama manusia
Nilai-nilai akhlak terhadap sesama manusia yang patut sekali untuk dilakukan, antara lain:


a)      Silaturrahmi
b)      Persaudaraan (ukhuwah)
c)      Persamaan(al-musawah)
d)     Adil
e)      Baik sangka
f)       Rendah hati
g)      Tepat janji
h)      Lapang dada
i)        Dapat dipercaya
j)        Perwira
k)      Hemat
l)        Dermawan



  1. Akhlak Terhadap Lingkungan
Lingkungan di sini meliputi segala sesuatu yang di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.
            Pada dasarnya akhlak yang diajarkan Al-Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi manusia dengan sesamanya dan terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan.
            Binatang, tumbuhan, benda-benda yang tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah dan menjadi milik-Nya, serta semuanya ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan seorang muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah umat tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
            Dari uraian di atas memperhatikan bahwa akhlak dalam islam sangat komprehensif, menyeluruh dan mencakup berbagai makhluk yang diciptakan tuhan. Hal yang demikian dilakukan secara fungsional, karena seluruh makhluk tersebut satu sama lain saling membutuhkan. Punah dan rusaknya salah satu bagian dari makhluk tuhan akan berdampak negatif bagi makhluk lainnya.[6]

D.    KEGUNAAN MEMPELAJARI AKHLAK
Suatu ilmu dipelajari karena ada kegunaannya. Oleh karena itu, mempelajari ilmu akhlak akan membuahkan hikmah yang besar bagi yang mempelajarinya, antara lain:
  1. Kemajuan rohani
Seseorang dapat membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Sesorang akan selalu berusaha memlihara diri agar senantiasa berada si garis akhlak yang mulia, dan menjauhi segala bentuk tindakan yang tercela yang dimurkai oleh Allah.

  1. Penuntun kebaikan
Bukan hanya sekedar memberitahu mana yg baik dan buruk, melainkan juga mempengaruhi dan mendorong manusia supaya membentuk hidup yang lurus dengan melakukan kebaikan yang mendatangkan manfaat bagi sesama manusia.
  1. Kebutuhan primer dalam keluarga
Akhlak merupakan faktor mutlak dalam menegakkan kelaurga sejahtera. Keluarga yang tidak dibina dengan tonggak akhlak yang baik, tidak akan bahagia, sekalipun bergelimang kekayaan. Keharmonisan keluarga terlahir dari akhlak yang luhur.
  1. Kerukunan antar tetangga
Untuk membina kerukunan antar tetangga diperlukan pergaulan yang baik, dengan jalan mengindahkan kode etik bertetangga.[7]

E.     PEMBAGIAN AKHLAK
  1. Akhlak yang Baik (Akhlaqul Karimah)
a)      Bersifat sabar
Kesabaran dapat di bagi menjadi empat kategori yaitu: Pertama, sabar menanggung beratnya melaksanakan kewajiban. Kedua, sabar menanggung musibah atau cobaan. Ketiga, sabar menahan penganiayaan dari orang. Keempat, sabar menanggung kemiskinan.
a)      Bersifat benar (istiqamah)
b)      Memelihara amanah
c)      Bersifat kasih sayang
d)     Bersifat hemat (harta benda, tenaga, waktu)
e)      Bersifat kuat (Al-Quwwah): kuat fisik, jiwa, dan akal
f)       Bersifat malu
g)      Memelihara kesucian diri (Al-‘Ifafah)
h)      Bersifat berani
i)        Bersifat adil
j)        Menepati  janji

  1. Akhlak yang Tidak Baik/ Tercela (Akhlaqul Madzmumah)
a)      Sifat dengki
b)      Sifat iri hati
c)      Sifat angkuh (sombong)
d)     Sifat riya
e)      Mengambil harta anak yatim, kecuali untuk keperluan anak itu sendiri
f)       Berkata kasar terhadap ibu-bapaknya atau menghardiknya
g)      Mengurangkan timbangan
h)      Berzina
i)        Membunuh



Akhlak yang terpuji menyebabkan munculnya rasa saling mencintai dan saling menyayangi. Sedangkan akhlak tercela menjadikan sling benci, hasud, dan permusuhan. Laksana biji yang baik akan menghasilkan panen yang baik.[8]

F.     ASPEK-ASPEK YANG MEMPENGARUHI AKHLAK
1.      Tingkah laku manusia
Sikap seseorang boleh jadi tidak digambarkan dalam perbuatan atau tidak tercermin dalam perilaku sehari-hari tapi adanya kontradiksi antara sikap dan tingkah laku.
Fitrah manusia selalu untuk berbuat baik (hanif). Seseoarang itu di nilai berdosa karena pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya, seperti pelanggaran terhadap akhlakul karimah, melanggar fitrah manusia, melanggar aturan agama dan adat istiadat.
2.      Insting dan Naluri
Dalam ilmu akhlak ,insting berarti akal pikiran. Akal dapat memperkuat akidah, namun harus ditopengi ilmu ,amal, dan takwa pada Allah.
Naluri merupakan asa tingkah laku perbuatan manusia. Naluri dapat diartikan sebagai kemauan tak sadar yang dapat melahirkan perbuatan mencapai tujuan tanpa berfikir kearah tujuan dan tanpa dipengaruhi oleh latihan berbuat.
Selain itu, banyak insting yang mendorong perilaku perbuatan yang menjurus kepada akhlaqul karimah maupun akhlaqul madzmumah, tergantung  yang mengendalikannya.

3.      Nafsu
Nafsu berasal dari bahasa Arab, yaitu, nafsun yang artinya niat. Nafsu ialah keinginan hati yang kuat. Nafsu merupakan kumpulan dari kekuatan amanah dan syahwat yang ada pada manusia. Menurut Kartini Kartono nafsu ialah dorongan batin yang sangat kuat,memili kecenderungan yang sangat hebat sehingga dapat menggangu  keseimbangan fisik. Nafsu dapat menyingkirkan semua pertimbangan akal, memengaruhi peringatan hati nurani dan menyingkirkan hasrat baik yang lainnya.
Nafsu merupakan salah satu potensi yang diciptakan Allah dalam diri manusia hingga ia dapat hidup,bersemangat,dan lebih kreatif. Nafsu sangat penting bagi kehidupan manusia. Hanya saja mengingat tabiat nafsu itu berkecenderungan untuk mencari kesenangan, lupa diri, bermalas-malasan yang membawa kesesatan dan tidak pernah merasa puas, maka manusia harus dapat mengendalikannya agar tidak membawa kepada kejahatan.
Manusia yang tidak berkepribadian selalu mengikuti nafsunya tanpa pertimbangan kemanusiaannya, yang dijadikan pedoman ialah  kepuasannya. Nafsu yang sudah menjadi-jadi sehingga bukan lagi manusia yang menguasainya melainkan nafsulah yang menguasai manusia itu.
4.      Adat dan Kebiasaan.
            Adat menurut bahasa (etimologi) ialah aturan yang lazim diikuti sejak dahulu. Adat adalah suatu pandangan hidup yang mempunyai ketentuan-ketentuan yang objektif , kokoh dan benar serta mengandung nilai mendidik yang besar terhadap seseorang dalam masyarakat.
            Kebiasaan adalah rangkain perbuatan yang dilakukan dengan sendirinya , tetapi masih di pengaruhi oleh akal pikiran. Pada permulaan sangat dipengaruhi oleh pikiran. Tetapi makin lama pengaruh pikiran itu makin berkurang  karena sering kali dilakukan. Kebiasaan merupakan kualitas kejiwaan, keadaan yang tetap, sehingga memudahkan pelaksanaan perbuatan. Lingkungan yang baik mendukung kebiasaan yang baik pula. Lingkungan dapat mengubah  kepribadian seseorang. lingkungan yang tidak baik dapat menolak adanya disiplin dan pendidikan.kebiasaan buruk mendorong kepada hal-hal yang lebih rendah, yaitu kembali kepada adat kebiasaan primitif. Seseorang yang hidupnya dikatakan modern,tetapi lingkungan bersifat primitif bisa merubah kepada hal yang primitif.  Kebiasaan itu bisa timbul  karena ada dala diri pribadi seseorang itu yang dibawah sejak lahir. Kebiasaan yang sudah melekat pada diri seseorang sukar untuk dihilangkan, tetapi jika ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk menghilangkannya,tetapi jika ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk menghilangkan, ia dapat mengubahnya.
5.      Kehendak dan Takdir
Kehendak menurut bahasa (etimologi) ialah kemauan, keinginan, dan harapan yang keras. Kehendak yaitu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu yang merupakan kekuatan dari dalam hati, bertautan dengan pikiran perasaan.
Kehendak mempunyai dua macam perbuatan , yaitu:
a)      Perbuatan yang menjadi pendorong, yakni kadang-kadang mendorong kekuatan manusia  supaya berbuat sepaerti, membaca,menulis,mengarang,dll
b)      Perbuatan menjadi penolak, yaitu terkadang mencegah perbuatan tersebut seperti, melarang berkata atau berbuat.
Kehendak bukanlah sesuatu kekuatan, tetapi merupakan tempat penerapan seluruh kekuatan. Allah menciptakan dengan kehendak. Oleh karena itu, apa yang disebut dengan kehendak dalam diri, pada hakikatnya adalah suatu kekuatan Allah.
Takdir yaitu ketetapan Allah, apa yang sudah ditetapkan Allah sebelumnya  atau nasib manusia. Secara bahasa takdir ialah ketentuan jiwa, yaitu suatu peraturan  tertentu yang telah dibuat Allah baik aspek struktual  maupun aspek fungsionalnya untuk segala yang ada dalam alam semesta yang maujud ini.[9]
Garis takdir itu ghaib bagi manusia, tak seorang pun yangmengetahui takdir yang telah ditentukan Allah  bagi dirinya, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi atas dirinya esok.





G.    KARAKTERISTIK AJARAN AKHLAK DALAM DUNIA SAINS
Karakteristik akhlaqul karimah adalah suatu karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim dengan berdasarkan Al-Quran dan Hadits dalam berbagai ilmu, kebudayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, politik pekerjaan, disiplin ilmu dan berbagai macam ilmu khusus.[10]
Jadi, karakateristik ajaran akhlaqul karimah tidak terlepas dari berbagai bidang disiplin ilmu keislaman. Bidang-bidang tersebut sebagai berikut:
1)      Akhlak bidang ilmu dan kebudayaan
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah dalam bidang kebudayaan merupakan penjelmaan (manifestasi) akal dan rasa manusia. Ini berarti manusialah yang menciptakan kebudayaan.
Karakteristik dalam ajaran akhlaqul karimah dalam bidang budaya, mengajarkan kepada seorang mukmin yang shaleh atau seorang mukmin yang sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat islam untuk melaksanakan kebudayaan dan menggali dari sumber-sumber islam secara kaffah.
Pada surah Al-‘Alaq: 1-5) terdapat kata iqro’ diulang dua kali. Kata tersebut menurut A.Baiquni, berarti membaca dalam arti biasa, menelaah, mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendeskripsikan, menganalisis, dan menyimpulkan secara deduktif.
Dari uraian ini maka karakteristik ajaran akhlaqul karimah dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersifat terbuka, akomodatif, tetapi juga selektif.
2)      Akhlak bidang sosial
Ilmu sosial adalah ilmu yang berhubungan dengan masyarakat atau lingkungan sekitarnya. Karakteristik ajaran akhlaqul karimah di bidang ini termasuk yang paling menonjol, karena seluruh bidang ajaran akhlaqul karimah dalam bidang sosial ditujuakn untuk mensejahterakan manusia. Namun, secara khusus dalam bidang sosial ini akhlak islam menjunjung tinggi sifat tolong-menolong, saling menasehati, kesetiakawanan, tenggang rasa dan kebersamaan.
3)      Akhlak bidang ekonomi
Karakteristik akhlaqul karimah dalam sistem ekonomi islam merupakan kebebasan terhadap pemilikan harta kekayaan, nilai keseimbangan, dan nilai keadilan merupakan kebulatan nilai yang tidak dapat dipisahkan.
4)      Akhlak bidang kesehatan
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah mewajibkan memelihara kesehatan dengan cara: mengajak dan menganjurkan orang lain untuk menjaga kebersihan dan lingkungan, merawat kesehatan dengan berolahraga, segera mengobati jika jatuh sakit, dan lain-lain.
            Karakteristik ajaran akhlaqul karimah tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih baik dari pada mengobati.
5)      Akhlak bidang politik
Politik adalah pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti, tata cara pemerintahan dan lain-lain. Karakteristik ajaran akhlaqul karimah dalam bidang politik sperti mentaati pemimpin yang benar, musyawarah dan lain-lain.
6)      Akhlak bidang sains modern
Sains modern adalah suatu sikap taat terhadap peraturan suatu bidang ilmu yang tersusun secara sistematis untuk meciptakan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
            Karakteristik ajaran akhlaqul karimah mengenai sains modern sangat dibutuhkan, sebab menerapkan sains modern pada seseorang, membuat seseorang tersebut tetap berpegang teguh pada peraturan dan takkan tergoyangkan akidahnya. Sebagai ajaran yang berkenaan dengan berbagai bidang kehidupan, karakteristik ajaran akhlaqul karimah tampil sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu akhlaqul karimah.

H.    HUBUNGAN AKHLAK DENGAN SAINS MODERN DAN KEADILAN
1)      Hubungan Akhlak dengan Sains Modern
Hubungan akhlak dengan sains modern didasarkan atas kulminasi dari sains-sains tradisional dan modern. Sains modern merupakan bidang ilmu yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menenangkan segala bidang ilmu pengetahuan. [11]
2)      Hubungan akhlak dengan keadilan
Akhlak dan berbuat adil sangat erat hubungannya, akhlak yang baik mampu berbuat adil, akhlak buruk terjadi penyimpangan hak dan keadilan. Keduanya saling berhubungan dan tarik menarik, tidak bisa dilepaskan antara satu dengan lainnya.[12]
Allah mengingatkan hambanya untuk selalu berbuat kebajikan dan keadilan, karena berbuat keadilan itu mendekatkan diri kepada taqwa. Manusia sebagai khalifah di bumi, wajib menerapkan konsep akhlak dan keadilan dalam kehidupannya sehari-hari. Intinya, dalam setiap tingkah laku dan perbuatan manusia harus mengacu kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya.


























BAB III
SIMPULAN

Suatu perbuatan atau sikap dapat dikategorikan akhlak apabila memenuhi kriteria berikut ini:
1)      Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah terjadi kepribadiannya.
2)      Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran.
3)      Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa paksaan atau tekanan dari luar.
4)      Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main, atau karena sandiwara.
Landasan hukum tentang akhlak salah satunya adalah: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-nisa: 36)














DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Yatimin. “Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Quran”. Jakarta: Amzah. 2007
Alim, Muhammad. “Pendidikan Agama Islam”. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006
Al-Qosim, Abdul Malik Muhammad. “Ibadah-Ibadah yang Paling Mudah”. Yogyakarta: Mitra
Pustaka. 1999
Nata, Abuddin. “Akhlak Tasawuf”. Jakarta: Rajawali Pers. 2010
Yunus, Mahmud. “Pendidikan Islam”. Jakarta: PT. Hidakarya Agung. 1992








[1] Muhammad Alim. “Pendidikan Agama Islam”. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006. Hal: 151
[2] Ibid. Hal: 151
[3] Ibid. Hal: 151
[4] Ibid. Hal: 151-152
[5] Abuddin Nata. “Akhlak Tasawuf”. Jakarta: Rajawali Pers. 2010. Hal: 149-150

[6] Muhammad Alim. Opcit. Hal: 152-158
[7] Ibid. Hal: 158-160
[8] Abdul Malik Muhammad Al-Qosim. “Ibadah-Ibadah yang Paling Mudah”. Yogyakarta: Mitra Pustaka. 1999. Hal:18
[9] M. Yatimin Abdullah. “Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Quran”. Jakarta: Amzah. 2007. Hal: 75-97
[10] Ibid. Hal: 113
[11] Ibid. Hal: 185
[12] Ibid. Hal: 151