Jumat, 05 Juni 2015

MAKALAH PERBUATAN TUHAN


BAB I
PENDAHULUAN
                        Dasar-dasar akidah islam telah dijelaskan Nabi Muhammad saw. melalui pewahyuan Al-qur’an dan kumpulan sabdanya untuk umat manusia generasi muslim awal binaan Rasullullah saw. telah meyakini dan menghayati akidah ini meski belum diformulasikan sebagai suatu ilmu lantaran lantaran rumusan tersebut belum diperlukan.
                        Pada periode selanjutnya, persoalan akidah secara ilmiah dirumuskan oleh sarjana muslim yang dikenal dengan dengan nama mutakallimun, hasil rumusan mutakallimun itu disebut kalam, secara harfiah disebut sabda Tuhan ilmu kalam berarti pembahasan tentang kalam Tuhan (Al-qur’an) jika kalam diartikan dengan kata manusia itu lantaran manusia sering bersilat lidah dan berdebat dengan kata-kata untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
                        Persoalan kalam lainnya yang menjadi bahan perdebatan diantara aliran-aliran kalam adalah masalah perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia. Masalah ini muncul sebagai buntut dari perdebatan ulama kalam mengenai iman.
Sehubungan dengan itu, ada beberapa masalah yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan Tuhan terhadap manusia yang menjadi bahan bahasan dan diskusi di kalangan mutakallimin. Dan yang terpenting diantaranya adalah lima poin masalah sebagai berikut; pertama, apakah Tuhan memiliki kewajiban terhadap manusia? Kedua, apakah Tuhan berkewajiban melakukan yang baik dan bahkan yang terbaik bagi kepentingan manusia? Ketiga, apakah layak Tuhan memberikan beban (taklif) diluar kemampuan manusia? Keempat, apakah pengiriman Rasul-Rasul adalah perkara yang wajib dilakukan Tuhan untuk kepentingan manusia? Dan kelima, apakah Tuhan berkewajiban menepati janji (wa’ad) dan menjalankan ancamannya (wa’id) terhadap manusia?
                        Dalam makalah ini akan dijelaskan perincian dari setiap masalah-masalah tersebut



BAB II
PEMBAHASAN
Sesungguhnya segala sesuatu yang wujud di alam raya ini selain wujudnya Allah adalah karena perbuatan (af’al) Allah dan pancaran dari keadilan-Nya yang sangat baik, paling sempurna, dan adil. Dia maha bijaksana dalam segala perbuatan-Nya, mahaadil dalam segala keputusan-Nya dengan keadilan yang tidak bisa diukur dengan keadilan hamba, karena keadilan seseorang hamba hanya bisa ditemukan unsur kezaliman, dengan menggunakan hak milik orang lain untuk kepentinan dirinya. Sementara itu tidak mungkin bisa di temukan suatu kezaliman bagi Allah, karena tidak mungkin akan berbenturan dengan kepentingan atau milik orang lain sehingga terjadi intervensi terhadap hak milik orang lain yang mengakibatkan tindakan zalim.
A.    PENGERTIAN PERBUATAN TUHAN
                        Perbuatan Allah ( افعال الله) ialah setiap kejadian yang berlaku di alam ini dengan kehendak dan iradah Allah SWT. Contohnya ialah kejadian siang dan malam, bencana alam, pasang surut lautan dan lain-lain adalah di bawah kekuasaan Allah. Firman Allah SWT:
ÏQr& (#ÿräsƒªB$# ZpygÏ9#uä z`ÏiB ÇÚöF{$# öNèd tbrçŽÅ³YムÇËÊÈ  

             “Adakah benda-benda dari bumi Yang mereka jadikan Tuhan-Tuhan itu, dapat menghidupkan semula sesuatu Yang mati?”
                        Berdasarkan ayat diatas, semua ciptaan Allah mempunyai hikmah dan rahasia yang tertentu. Orang yang menggunakan akal fikiran akan dapat mengungkap rahasia ciptaan Allah itu.
B.     MENGETAHUI PERBUATAN – PERBUATAN ALLAH SWT.
                        Pengetahuan tentang hal ini mencakup sepuluh prinsip dasar :
Prinsip dasar pertama : mengetahui segala yang ada di alam raya ini adlah perbuatan Allah, ciptaan dan kreasi-Nya. Tidak ada pencipta selain Dia. Dia yang mewujudkan dan menciptakan makhluk, Dia pula yang menciptakan kemampuan dan aktivitas mereka. Maka semua perbuatan hamba adalah ciptaan dan makhluk-Nya yang berkaitan dengan kekuasaan-Nya, sesuai dengan firman-Nya dalam Qs. Az-zumar : 62.
Prinsip dasar kedua : sesungguhnya kemandirian Allah swt dalam menciptakan gerakan-gerakan hamba adalah tidak berarti mengisolirnya dari kenyataan bahwa gerakan-gerakan tersebut “dikuasakan” kepada hamba dengan cara “berusaha” (ikhtisab), bahkan Allah swt menciptakan “kekuasaan” (qudrat) dan yang dikuasakan, menciptakan usaha dan yang diusahakan secara keseluruhan.
Prinsip dasar ketiga : bahwa perbuatan hamba, meskipun itu merupakan usaha (ikhtisab) yang dilakukan oleh hamba, namun itu tidak berarti keluar dari apa yang dikehendaki oleh Allah swt.tidak ada yang mampu menolak ketentuan-Nya, tidak ada yang berhak menuntut keputusan hukum-Nya, Dia berhak menyesatkan orang yang dikehendaki dan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki pula.
Prinsip dasar keempat : sesungguhnya ciptaan dan kreasi Allah swt terhadap makluk-Nya hanyalah semata karena kemuliaan-Nya. Pemberian tugas kepada hamba hanya semata karena anugrah-Nya.
Prinsip dasar kelima: Allah swt berhak membebani makhluk-Nya dengan beban yang di luar batas kemampuan mereka. Ini berbeda dengan pandangan mu’tazilah. Seandainya Dia tidak memiliki kewenangan untuk melakukan hal itu tentu mustahil Allah mengajari hamba-Nya agar meminta tidak dibebani di luar batas kemampuan mereka.
Prinsip dasar keenam : allah swt berhak mencela dan menyudutkan makhluk-Nya dengan tanpa da alasan dosa yang dilakukan sebelumnya dan pahala yang akan diberikan.
Prinsip dasar ketujuh : Allah swt berhak untuk berbuat apa saja terhadap hamba-Nya, maka Dia tidak wajib memperhatikan yang baik atau yang terbaik bagi hamba-Nya, sebab seperti yang telah disebutkan, tidak ada sesuatu yang wajib dilakukan oleh Allah. Bahkan tidak masuk akal kalau Dia dikenai kewajiban. (QS. AL-ANBIYA’ : 23).
Prinsip dasar kedelapan : bahwa kewajiban untuk mengetahui Allah swt dan menaati-Nya adalah wajib karena diwajibkan oleh Allah swt melalui syari’at-Nya bukan sekedar karena tuntutan akal.
Prinsip dasar kesembilan :Allah mengutus para Nabi as bukanlah sesuatu yang mustahil. Kebutuhan ummat manusia kepada para Nabi adalah seperti kebutuhan mereka kepada para dokter. Akan tetapi kebenaran seorang dokter diuji melalui ekperimen-ekperimen, sementara kebenaran seorang Nabi dibuktikan melalui mukjizat.
Prinsip dasar kesepuluh : Allah swt telah mengutus Muhammad saw sebagai penutup para nabi dan bertugas menyalin syari’at syari’at sebelumnya yaitu syari’at yahudi, nasrani, dan shabai. Allah swt memperkuat kenabian Muhammad saw dengan mukjizat yang jelas dan ayat-ayat yang terang.[1]
C. PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN ILMU KALAM TERHADAP PERBUATAN ALLAH
1.      Aliran Mu’tazilah
                        Aliran Mu’tazilah, sebuah aliran kalam yang bercorak rasional, mereka berpandangan bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak mampu melakukan perbuatan buruk.[2] Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan dari perbuatan buruk itu.
                        Di dalam Al-Quran pun jelas dikatakan bahwa Tuhan tidaklah zhalim. Ayat-ayat Al-Quran yang dijadikan dalil oleh Mu’tazilah untuk mendukung pendapatnya di atas adalah surat Al-Anbiya’ ayat 23 yang berbunyi:
“Ia tidak boleh ditanya tentang apa yang ia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya kelak”.
                        Dan surat Ar-Rum ayat 8 yang berbunyi:
“Patutkah mereka merasa cukup Dengan mengetahui Yang demikian sahaja, dan tidak memikirkan Dalam hati mereka, (supaya mereka dapat mengetahui), Bahawa Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta Segala Yang ada di antara keduanya itu melainkan Dengan ada gunanya Yang sebenar, dan Dengan ada masa penghujungnya Yang tertentu, (juga untuk kembali menemui Penciptanya)? dan sebenarnya banyak di antara manusia, orang-orang Yang sungguh ingkar akan pertemuan Dengan Tuhannya”.
            Berdasarkan ayat yang telah dikemukakan diatas, seorang tokoh Mu’tazilah yang bernama Qadi Abd Al-Jabar menyebutkan bahwa ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Tuhan hanya berbuat yang baik dan Mahasuci dari perbuatan buruk. Dengan demikian, Tuhan tidak perlu sitanya. Ia menambahkan kenyataannya bahwa seseorang yang dikenal baik, apabila secara nyata berbuat baik, tidak perlu ditanya mengapa ia melakukan perbuatan baik itu?. Manakala ayat yang kedua pula, menurut Al-Jabbar, mengandung petunjuk bahwa Tuhan tidak pernah dan tidak akan melakukan perbuatan buruk, pernyataan bahwa Ia menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan hak, tentulah tidak benar atau merupakan berita bohong.
            Selain itu kelompok Mu’tazilah juga berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban terhadap manusia. Kewajiban-kewajiban tersebut dapat disimpulkan dalam satu hal, yaitu kewajiban berbuat baik bagi manusia. Kelompok Mu’tazilah mengonsekuensikan tentang faham kewajiban Allah sebagai berikut:
a.      Kewajiban Tidak Memberikan Beban di Luar Kemampuan Manusia.
Memberikan beban di luar kemampuan manusia (taklif ma la yutaq) adalah bertentangan dengan paham berbuat baik dan terbaik. Hal ini bertentangan dengan paham mereka tentang keadilan Tuhan. Tuhan akan bersifat tidak adil kalau ia memberi beban yang terlalu berat kepada manusia.
b.      Pengiriman Rasul-Rasul
Bagi aliran Mu’tazilah, dengan kepercayaan bahwa akal dapat mengetahui hal-hal gaib, pengiriman Rasul tidaklah begitu penting. Namun, mereka memasukkan pengiriman Rasul kepada umat manusia menjadi salah satu kewajiban Tuhan. Argumentasi mereka adalah kondisi akal yang tidak dapat mengetahui setiap apa yang harus diketahui manusia tentang Tuhan dan alam gaib. Oleh karena itu, Tuhan berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia dengan mengirimkan Rasul. Tanpa Rasul, manusia tidak akan memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia dan di akhirat nanti.
c.       Kewajiban Menepati Janji dan Ancaman.
Janji dan ancaman merupakan salah satu dari lima dasar kepercayaan aliran Mu’tazilah. Hal ini erat hubungannya dengan dasar keduanya, yaitu keadilan. Tuhan akan bersifat tidak adil jika tidak menepati janji untuk memberi pahala kepada orang yang berbuat baik, dan menjalankan ancaman bagi orang yang berbuat jahat.
Prinsip janji dan ancaman yang dipegang oleh kaum mu’tazilah adalah untuk membuktikan keadilan Tuhan sehingga manusia dapat merasakan balasan Tuhan atas segala perbuatannya. Disinilah peranan janji dan ancaman bagi manusia agar tidak terlalu terlena menjalankan kehidupannya.
                        Ajarannya adalah :
1.       Orang mukmin yang berdosa besar lalu mati sebelum tobat ia tidak akan mendapat ampunan Tuhan.
2.       Di akhirat tidak akan ada syafaat sebab syafaat berlawanan dengan al-wa’du wal wa’id.
3.       Tuhan akan membalas kebaikan manusia yang telah berbuat baik dan akan menjatuhkan siksa terhadap manusia yang melakukan kejahatan.[3]

2.      Aliran Asy’ariyah
                        Bagi kaum Asy’ariah ini, Tuhan berkuasa dan berkehendak mutlak dan Tuhan memang tidak terikat kepada apa pun, tidak terikat kepada janji-janji, kepada norma-norma keadilan dan sebagainya.[4] Selain itu bagi mereka perbuatan-perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan, tujuan dalam arti sebab yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu.
                        Dalam pada itu pula menurut aliran Asy’ariyah, faham kewajiban Tuhan berbuat baik dan terbaik bagi manusia, sebagaimana yang telah dinyatakan aliran Mu’tazilah, tidak dapat diterima karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan yang mereka anut. Dengan demikian, aliran Asy’ariyah tidak menerima faham Tuhan mempunyai kewajiban. Al-Ghazali ada menyatakan, perbuatan-perbuatan Tuhan bersifat tidak wajib (ja’iz) dan tidak satu pun daripadanya yang mempunyai sifat wajib.
                        Karena percaya pada kekuasaan mutlak Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban apa-apapun. Disamping itu, aliran Asy’ariah menolak kewajiban Tuhan dalam pengiriman Rasul. Hal itu bertentangan dengan keyakinan mereka bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap manusia.
Aliran Asy’ariyah juga berargumen Tuhan tidak mempunyai kewajiban menepati janji dan menjalankan ancaman yang tersebut Al-Qur’an dan Hadis. Di sini timbul persoalan bagi Asy’ariyah karena dalam Al-Quran dikatakan dengan tegas bahwa siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka. Untuk mencegah kata-kata Arab “man, alladzina” dan sebagainya yang mengambarkan arti siapa, diberi Interpretasi oleh As-Asy’ari, “bukan semua orang tetapi sebagian”. Dengan demikian kata siapa dalam ayat “Barang siapa menelan harta anak yatim piatu dengan cara tidak adil, maka ia sebenarnya menelan api masuk ke dalam perutnya”, mengandung arti bukan seluruh, tetapi sebagian orang yang berbuat demikian. Adapun yang sebagian lagi akan terlepas dari ancaman atas dasar kekuatan dan kehendak mutlak Tuhan. Dengan interpretasi demikianlah, Al-Asy’ari mengatasi persoalan wajibnya Tuhan menepati janji dan menjalankan ancaman.
                        Al-asy’ari berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun. Tuhan tidak wajib memasukkan orang, baik ke surga ataupun neraka. Semua itu merupakan kehendak mutlak Tuhan, sebab Tuhanlah yang berkuasa dan segala-galanya adalah milik Allah. Jika Tuhan memasukkan seluruh manusia ke dalam surga, bukan berarti ia tidak adil. Sebaliknya jika Tuhan memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka, bukan berarti ia zhalim. Tuhan adalah penguasa mutlak dan tidak ada yang lebih kuasa. Ia dapat dan boleh melakukan apa saja yang dikehendakinya.[5]
3.      Aliran Maturidiyah
                        Kaum mu’tazilah, sebagaimana diketahui menganut paham bahwa Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap manusia. Kewajiban-kewajiban Tuhan itu pada dasarnya berorientasi kepada keharusannya untuk berbuat apa yang baik bahkan apa yang terbaik bagi manusia.[6]
                        Dalam memahami konsep perbuatan Allah ini, terdapat 2 perbedaan pendapat antara Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah Bukhara. Aliran Maturidiyah Samarkand, yang juga memberikan batas kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, berpandangan bahwa perbuatan Tuhan hanyalah menyangkut hal-hal yang baik saja. Maka dengan demikian, Tuhan mempunyai kewajiban melakukan hal yang baik bagi manusia. Oleh itu, pengiriman Rasul dipandang Maturidiyah Samarkand sebagai kewajiban Tuhan.
                        Adapun Maturidiyah Bukhara memiliki pendapat yang sama dengan kelompok Asy’ariyah mengenai faham bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Badzawi, Tuhan pasti menepat janji-nya, seperti member ganjaran kepada orang yang melakukan kebaikan, walaupun Tuhan mungkin saja membatalkan ancaman bagi orang yang berdosa besar. Manakala pendapat yang dikemukakan oleh golongan Maturdiyah Bukhara tentang pengiriman Rasul, sesuai dengan faham mereka tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin saja.
                        Aliran Samarkand memberi batasan pada kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan sehingga mereka menerima faham adanya kewajiban-kewajiban bagi Tuhan, sekurang-kurangnya kewajiban menpati janji tentang pemberian balasan dan pemberian hukuman.
                        Adapun dalam hal memberatkan beban kepada manusia di luar batas kemampuannya, yang menerima konsep ini adalah kelompok Maturidiyah Bukhara menerimanya. Tidaklah mustahil meletakkan kewajiban-kewajiban yang tidak bisa dipikul atas diri manusia kata Al-Bazdawi. Sebaliknya golongan Samarkand mengambil posisi yang hampir dengan Mu’tazilah.
                        Manakala mengenai pengiriman Rasul, aliran Maturidiyah kalangan Bukhara, bersesuaian dengan faham mereka yang sama dengan aliran Asy’ariyah. Pengiriman Rasul menurut mereka, tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin sahaja. Adapun golongan Samarkand berpendapat tentang persoalan ini, mereka sefaham dengan Mu’tazilah mengenai wajibnya pengiriman Rasul yang telah dinyatakan oleh Al-Bayadi.
                        Mengenai kewajiban Tuhan memenuhi janji dan ancaman-nya, golongan Maturidiyah Bukhara tidak sefaham dengan aliran Asy’ariyah. Menurut mereka, sebagaiman yang dijelaskan oleh Bazdawi, tidak mungkin Tuhan melanggar janji-Nya untuk memberi ganjaran kepada orang yang melakukan perbuatan baik. Tetapi, bisa saja Tuhan membatalkan ancaman untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat.
                        Adapun menurut golongan Maturidiyah Bukhara, Tuhan tidak mungkin mengkhianati janji untuk memberi upah kepada orang yang berbuat baik. Manakala golongan Maturidiyah Samarkand  mempunyai pendapat yang sama dengan aliran Mu’tazilah bahwa upah dan hukuman Tuhan pasti terjadi kelak.
Walaupun berbeda, Maturidiyah Bukhara dan Maturidiyah Samarkand tetap sepakat bahwa perbuatan Tuhan mengandung kebijaksanaan (hikmah), baik dalam penciptaannya maupun dalam perintah dan larangannya.[7]
















BAB III
SIMPULAN
                        Perbuatan Allah ialah setiap kejadian yang berlaku di alam ini dengan kehendak dan iradah Allah SWT. Contohnya ialah kejadian siang dan malam, bencana alam, pasang surut lautan dan lain-lain adalah di bawah kekuasaan Allah.
Perbandingan antara aliran ilmu kalam terhadap perbuatan Allah:
1.      ALIRAN MU’TAZILAH
a.          Kewajiban tidak memberikan beban di luar kemampuan manusia.
Mu’tazilah mengatakan ini karena bertentangan dengan faham berbuat baik dan terbaik. Hal ini bertentangan dengan faham mereka tentang keadilan Tuhan, Tuhan akan bersifat tidak adil kalau ia memberi beban yang terlalu berat kepada manusia.
b.         Kewajiban Mengirimkan Rasul.
Mu’tazilah mengatakan tanpa Rasul, manusia tidak akan memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia dan di akhirat nanti.
c.          Kewajiban Menepati Janji (Al-Wa’d) dan Ancaman (Al-Wa’id).
Janji dan ancaman merupakan dari lima dasar kepercayaan aliran Mu’tazilah. Selanjutnya keadaan tidak menepati janji dan tidak menjalankan ancaman bertentangan dengan maslahat dan kepentingan manusia, oleh karena itu menepati janji dan menjalankan ancaman adalah wajib bagi Tuhan.
2.      ALIRAN ASY’ARIYAH
Mereka mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban seperti yang dikatakan Mu’tazilah, mereka mengatakan bahwa Tuhan dapat berbuat sekehendak-Nya terhadap makhluk. Seperti yang dikatakan Al-Ghazali, perbuatan-perbutaan Tuhan bersifat tidak wajib (ja’iz) dan tidak satupun darinya mempunyai sifat wajib.


3.      ALIRAN MATURIDIYAH
Ada dua  pandangan yaitu :
a.       Maturidiyah Samarkand mengatakan bahwa Perbuatan Tuhan hanyalah mengangkut hal-hal yang baik saja, demikian juga pengiriman Rasul adalah kewajiban Tuhan.
b.      Maturidiyah Bukhara mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban, namun mereka berkeyakinan seperti yang dijelaskan oleh Badzawi Tuhan pasti menepati janji-Nya, seperti memberikan upah pahala bagi yang berbuat baik dan sebaliknya, dan mengenai pengiriman Rasul bukan merupakan kewajiban bagi Tuhan hanya bersifat mungkin saja.





















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad, Tauhid ilmu kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2009
Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Jumanatul Ali Alquran dan                              terjemahannya, Bandung: Jumanatul Ali Art, 2004
Karim, Muhammad Nazir, Dialektika Teologi Islam, Bandung: Penerbit                              Nuansa, 2004
Rozak, Abdul, dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia: Bandung,                                     20011








                [1] Abu Hamid Al-Ghazali, Tauhidullah (Risalah Suci Hujjatul Islam), 1998, Surabaya:                                  Risalah Gusti
                [2] Abdur Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, 2011, Pustaka Setia: Bandung, hal.153
            [3] Muhammad Ahmad, Tauhid ilmu kalam, 2009, Bandung: Pustaka Setia, hal.169
                [4] Abdur Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, 2011, Pustaka Setia: Bandung, hal.153
                [5] Muhammad Ahmad, Tauhid ilmu kalam, 2009, Bandung: Pustaka Setia, hal.181
                [6] Muhammad Nazir Karim, Dialektika Teologi Islam, 2004, Bandung: Penerbit Nuansa, hal.    171
                [7] Muhammad Ahmad, Tauhid ilmu kalam, 2009, Bandung: Pustaka Setia,  hal.190

MAKALAH KEKUASAAN DAN TUHAN DALAM ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ada banyak pendapat dari para pemikir islam mengenai dzat dan sifat Allah. Sejak setelah rosulullah wafat mulai muncul pemikiran yang begitu beragam dari umat islam sendiri. Hal ini bukan karena kurangnya penjelasan tentang dzat dan sifat Allah di dalam Al-Qur’an tetapi karena pemahaman dan penafsiran manusia terhadap ayat ayat itu. Perbedaan penafsiran ini dipengaruhi ileh banyak faktor, seperti latar belakang pendidikan, wilayah, pola pikir, dan juga terkadang orientasi tertentu.
Mengenai kekuasaan Tuhan sebenarnya ada banyak ayat yang membahas tentang kekuasaan Tuhan, baik itu Hadis ataupun Al-Qur’an. Karena banyaknya ayat itulah manusia mulai memikirkan dan mengemukakan pemahaman mereka tentang seperti apa atau sejauh mana kekuasaan Allah itu.
Perdebatan mengenai masalah kekuasaan Tuhan muncul karena rasa keingintahuan umat islam yang tinggi terhadap Tuhannya, sehingga ingin mengetahui dzat Tuhan walaupun mereka tahu bahwa pemikiran mereka tidak akan sampai pada kesimpulan dengan kebenaran yang mutlak. Tetapi dengan alasan ingin menambah keyakinan terhadap Tuhan dan agar mempunyai kemampuan berdebat dengan orang non islam mengenai masalah keTuhanan mereka tetap mempelajari ilmu kalam.
B.     Rumusan Masalah
-          Bagaimana kekuasaan tuhan itu?
-          Apa yang dimaksud debgan tuhan itu?
-          Dalil hukumnya?





BAB II
PEMBAHASAN
KEKUASAAN DAN TUHAN
A.    Kekuasaan Tuhan
1.      Pendapat Imam Abu Hanifah
Mengenai kekuasaan Allah Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Allah tidak disifati dengan sifat sifat makhluknya. Allah juga hidup, berkuasa, melihat, dan mengetahui. Tetapi kesemuanya itu tidak sama dengan apa yang dimiliki oleh makhluk ataupun manusia. Sehingga sifat Allah tidak boleh direka reka bentuknya, dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinya kekuasaannya dan nikmatnya, atau bahwa murka Allah adalah siksanya dan ridha Allah adalah pahalanya, karena hal itu berarti meniadakan sifat sifat Allah, sebagaimana pendapat yang dipegang oleh ahli qadar dan golongan muktazilah. Beliau juga menyatakan bahwa orang yang menyifati Allah dengan sifat sifat manusia berarti ia telah kafir.
Allah memiliki sifat dzatiyah dan fi’liyah. Sifat dzatiyahnya adalah hayah (hidup), qudrah (mampu), ilm (mengetahui), sama’ (mendengar), bashar (melihat), dan iradah (kehendak). Serta sifat fi’liyahnya adalah menciptakan, memberi rizki, membuat, dan lain lain yang berkaitan dengan sifat sifat perbuatan.
Imam Abu Hanifah berkata bahwa Allah berada di langit bukan di bumi, kemudian ada orang yang bertanya “tahukah anda bahwa Allah berfirman “Allah itu bersamamu”, beliau menjawab bahwa ungkapan itu seperti orang yang menulis surat kepada seseorang yang isinya, saya akan selalu bersamamu padahal kamu jauh darinya.
Dari pendapat Abu Hanifah diatas kita dapat melihat bahwa beliau sangat menentang golongan yang memikirkan tentang seperti apa sifat sifat Allah itu, karena akibat dari penafsiran mereka tentang sifat sifat Allah itu menyebabkan mereka saling bermusuhan karena berbeda pendapat sehingga beliau melarang pembelajaran ilmu kalam.
Imam Abu Hanifah secara tidak langsung mengatakan bahwa kekuasaan Allah itu tidak sama dengan kekuasaan makhluk. Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu sehingga tidak ada yang luput dari kuasanya termasuk untuk membuat seseorang menjadi kafir ataupun mukmin. Karena menurut beliau “di dunia ini dan akhirat tidaklah ada dan terjadi sesuatu kecuali berdasarkan kehendak Allah”, dan beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa semua perbuatan hamba, baik yang bergerak ataupun diam, merupakan usahanya, dan Allah yang menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasarkan kehendak, pengetahuan, penetapan dan qadar Allah.
2.       Pendapat Imam Malik
Sebagaimana Imam Abu Hanifah, Imam Malik juga sangat menentang golongan yang menggunakan rasionya untuk memikirkan dzat dan sifat Allah, bahkan beliau mengatakan bahwa orang yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, dia harus dihukum cambuk dan dipenjara sampai dia bertaubat . Beliau berkeyakinan bahwa Allah di langit dan ilmu (pengetahuan) Allah meliputi setiap tempat. Dan beliau yakin bahwa ketetapan Allah sudah ditentukan telebih dahulu, yaitu sesuai firman Allah “sekiranya kami menghendaki, kami akan memberikan petunjuk kepada semua orang. Tetapi tetaplah keputusanku, bahwa aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia semuanya (As-Sajdah :13).
Beliau menentang pendapat kelompok qadariyah yang menyatakan bahwa Allah tidak menciptakan maksiat, dan manusia itu mempunyai kemampuan, yang jika mau bisa menjadi orang orang taat atau menjadi orang orang yang durhaka.
3.      Pendapat Imam Syafi’i
Imam Syafi’i mempunyai aqidah yang sejalan dengan imam abu hanifah dan imam malik. Karena imam syafi’i termasuk juga dalam ahlussunah wal jamaah. Mengenai masalah kekuasaan Allah imam syafii mengatakan bahwa masalah makhluk yang bisa dilihat dengan mata kepala saja kita masih banyak yang tidak tahu, apalagi mengenai masalah ilmu pencipta makahluk itu. Kemudian Imam Syafi’i menyuruh untuk menjadikan makhluk sebagai bukti atas kekuasaan Allah, dan jangan memaksa diri untuk mengetahui hal hal yang tidak dapat dicapai oleh akal.





B.     Dalil – Dalil Kekuasaan Allah
Mengenai kekuasaan Allah tentu saja kita akan merujuk kepada ayat ayat yang menjelaskan hal itu. Dalam kaitannya dengan kekuasaan, Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 20:
ߊ%s3tƒ ä-÷Žy9ø9$# ß#sÜøƒs öNèdt»|Áö/r& ( !$yJ¯=ä. uä!$|Êr& Nßgs9 (#öqt±¨B ÏmŠÏù !#sŒÎ)ur zNn=øßr& öNÍköŽn=tæ (#qãB$s% 4 öqs9ur uä!$x© ª!$# |=yds%s! öNÎgÏèôJ|¡Î/ öNÏd̍»|Áö/r&ur 4 žcÎ) ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÉÈ  
Artinya :
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.(Q.S. Al Baqarah : 20).[1]
Menurut tafsir al maraghi pernyataan ini berarti bahwa apa yang dikehendaki Allah, maka hal tersebut tentunya pasti ada. Sebab bagi Allah tidak ada sesuatu yang tidak bisa, baik di bumi maupun dilangit, semuanya bisa dilakukan Allah .[2]
Pendapat ini sejalan dengan al ghazali yang mengemukakan bahwa salah satu sifat ma’ani Allah adalah qudrah (maha kuasa) sehingga perbuatan Allah tidaklah terbatas dalam menciptakan alam saja, tetapi juga dalam menciptakan perbuatan manusia dan ikhtiarnya. Sehingga perbuatan manusia tidak terlepas dari kehendak Allah. Manusia hanya diberi kekuasaan yang terbatas dalam lingkungan kehendak Tuhan dan tidak akan melampaui garis garis qadar. Alghazali berpendapat berdasarkan firman Allah “Allah sesatkan siapa saja yang dikehendakinya dan ia beri hidayah orang yang dikehendakinya”
Ayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa Allah dapat melakukan apapun yang dikehendakinya kepada siapapun sehingga semua yang ada di alam semesta ini tidak ada yang lepas dari kuasa Allah. Tetapi jika dihubungkan dengan perbuatan manusia yang tidak lepas dari kehendak Allah maka apakah Allah tidak berlaku dhalim terhadap makhluknya ketika Allah menyiksanya karena kesalahan yang diperbuatnya padahal perilakunya tidak lepas dari kehendak Allah. Maka dalam konteks tertentu pendapat ini tidak bisa dipakai karena jika kehendak dan kekuasaan Allah terhadap makhluk berlaku secara mutlak dan menyeluruh, kemudian dihubungkan dengan siksa Allah maka apakah tidak dhalim jika Allah menyiksa makhluk yang berbuat salah bukan karena kehendaknya sendiri.
Diayat lain Allah juga berfirman tentang kekuasaannya :
¬! à7ù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $tBur £`ÍkŽÏù 4 uqèdur 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« 7ƒÏs% ÇÊËÉÈ  
Artinya :
kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Q.S. AL Maidah 120).
Imam Jalaluddin dalam tafsir Jalalain-nya menginterpretasikan bahwa ayat tersebut menjelaskan kepunyaan Allah (langit dan bumi) sebagai tempat penyimpanan hujan, semua tumbuhan, semua rezeki serta apa yang ada di dalamnya. Digunakan kata “maa”, karena kebanyakan makhluk Allah itu terdiri dari yang tidak berakal. Tetapi dia maha kuasa atas segala sesuatu, termasuk yang tidak berakal itu. Kekuasaa Tuhan itu jua ditegaskan memberi pahala kepada yang berbuat benar, dan menyiksa orang yang berbuat dusta.[3]
C.    Pendapat Aliran-Aliran Tentang Kekuasaan
1.       Aliran Qadariyah
Qadariyah adalah aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi perbuatannya sendiri, penekanan pada kebebasan manusia dalam mewejudkan perbuatannya.
Manusia dinilai mempunyai kekuatan melaksanakan kehendaknya, menentukan keputusan. dalam surat Al-Rad ayat 11, Allah berfirman:”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu bangsa, kecuali jika bangsa itu mengubah keadaan diri mereka sendiri. Menurut Ghailan Al Dimasyqi pendiri aliran ini, manusia berkuasa atas perbuatan – perbuatannya . manusia sendirilah yang melakukan perbuatan-perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaannya sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjahui perbuatan-perbuatan jahat atas kemauan dirinya sendiri.[4] Pendapat mereka sebagian besar sama dengan muktazilah hanya saja kalau muktazilah mengatakan baha perbuatan menusia yang baik dijadikan Tuhan, dan yang buruk tidalk dijadikan oleh Tuhan, sedangkan qadariyah menyatakan bahwa baik dan buruk tidak dijadikan oleh Allah.
2.       Aliran Jabariyah
Jabariya mengandung arti memaksa, menurut Al-Syahrastani, jabariah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba seorang hakikat dan menyadarkan perbuatan tersebut kepada Allah SWT. Paham yang dibawa ole Jahm Ibn Safwan adalah lawan ekstrim dari paham yang dianjurkan oleh Ma’bad dan Ghailan. Manusia menurut Jahm tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat apa apa. Manusia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan. Manusia dalam perbuatan-perbuatannya adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya.  Paham ini diduga telah ada sejak sebelum agama Islam datang kemasyarakat arab. Mereka pada mulanya merupakan pengikut ahlussunah wal jamaah, tetapi mereka lebih ekstrim menyatakan bahwa sekalian yang terjadi di alam ini pada hakikatnya dijadikan oleh Tuhan, sehingga kalau orang meninggalkan sholat ataupun melakukan kejahatan maka semuanya tidak apa apa karena hal itu dijadikan oleh Allah. Perbuatan yang dilakukan manusia baik yang terpuji maupun yang tercela hakikatnya bukanlah hasil pekerjaannya sendiri melainkan hanyalah ciptaan Allah, yang dilaksanakanNya melalui tangan menusia.[5] Begitulah pendapat dari aliran ini. Dengan firman Allah dalam surat ; Al-Saffat ayat 96, ditegaskan : Allah, menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.[6]
3.      Aliran Maturidiyah
Adapun kaum: Muturidiyah, khususnya kelompok Bukhara, mereka menganut pendapat bahwa Tuhan memiliki kekuasaan muthlak. Menurut al-Bazdawiy, Tuhan memang berbuat apa saja yang dikehendakiNya dan menentukan segala-galanya menurut kehendakNya. Tidak ada yang dapat menentang atau memaksa Tuhan, dan tidak larangan-larangan terhadap Tuhan. Akan tetapi walau bagaimanapun juga faham mereka tentang kekuasaan Tuhan tidaklah semuthlak faham Asy’ari. Bukhara dalam mempertahankan kemuthlakan kekuasaan Tuhan, akan tetapi tidak pula memberikan batasan sebanyak batasan yang diberikan oleh kaum Mu’tazilah bagi kekuasaan muthlak Tuhan. Batasan-batasan yang diberikan oleh kaum Maturidiy kelompok samarkand ini, adalah :
- Kemerdekaan dalam kemauan dan perbuatan yang menurut pendapat mereka ada pada manusia
-  Keadaan Tuhan menjatuhkan hukuman bukan sewenang-wenang, akan tetapi berdasarkan atas kemerdekaan manusia dalam mempergunakan daya yang diciptakan Tuhan dalam dirinya untuk berbuat baik atau
Adapun kaum Maturidiy kelompok Samarkand, tidaklah sekeras kelompok
berbuat jahat.
4.      Aliran Asy’-Ariyah
Paham ini meletakkan kekuasaan Allah diatas segalanya dan berlaku terhadap segala sesuatu, sehingga manusia pada hakikatnya tidak mempunyai daya dan kekuasaan apapun untuk berbuat sesuatu kecuali jika kekuasaan dan kemurahan Allah mendukung perbuatan itu, meskipun perbuatan itu baik ataupun buruk harus melalui persetujuan Allah. Sehingga keadilan menurut asy’ariyah adalah bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhluknya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya dalam kerajaannya, sebaliknya ketidak adilan adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu berkuasa mutlak terhadap hak milik orang.
Jadi menurut Asy’ariyah semua system nilai yang ada baik itu baik buruk, benar salah, adil ataupun dhalim semuanya dipandang dari sudut kekuasaan Allah, sehingga apapun yang diperbuat Allah kepada makhluknya merupakan suatu hal yang benar meskipun menurut pandangan manusia hal itu salah.
Bagi Al-Asyari maupun Mu’tazilah Allah mempunyai keadilan dan kekuasaan, bagi Mu’tazilah keadilan Allah lebih besar dari kekuasaan, Allah akan menghukum orang yang bersalah dan memberi pahala bagi yang berbuat baik. bagi Al-Asyari kekuasaan Allah melebihi keadilannya. Karena Allah maha kuasa atas segala sesuatu.[7]
D.    Konsep Tuhan Menurut Islam
Konsep Tuhan merupakan konsep yang mendasar bagi setiap agama yang ada. Dari konsep Tuhan tersebut, lahirlah konsep-konsep Islamic worldview yang lain, seperti; konsep tentang wahyu, konsep kenabian, konsep alam, konsep manusia, konsep kehidupan, konsep penciptaan, konsep ilmu, dan konsep-konsep yang lainnya. Dikarenakan begitu sentralnya konsep Tuhan tersebut, maka perbincangan mengenai agama apapun, tidak akan terlepas dari pemahaman konsep Tuhan.

konsep Tuhan dalam Islam otentik dan final, berdasarkan atas wahyu Al-Qur’an yang juga bersifat otentik dan final, lafdhan wa ma’nan dari Allah , Shalih fi kulli zaman wa makan, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Prof. Al-Attas menjelaskan “The nature of God as revealed in Islam is Derived from Revelation”.[8]
Konsep Tuhan dalam Islam bersifat “haq”. Bukan Tuhan hasil personofikasi, sebagaimana agama lain melakukannya sebagai penyelamat, penebus dosa, Bapa, anak, ruh qudus dan sebagainya. Dan bukan juga seperti Tuhan dalam konsepsi Aristotle, yaitu Tuhan filsafat, yang sering diistilahkan dengan penggerak yang tidak bergerak, Tuhan yang ada dalam pikiran manusia. Yang berari bahwa ketika manusia tidak berfikir Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.  Tuhan adalah Dzat yang transenden dan mutlak, yang sama sekali berbeda dengan makhluknya. Maka tidak tepat manusia, sebagai ciptaan, menciptakan dari pemikiran mereka sendiri mengenai personifikasi ataupun atribusi kepada Dzat Pencipta.[9]

Konsep Tuhan dalam Islam telah memperlihatkan kemurnian dan kejelasan dengan konsep Tuhan dalam agama lain (Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dsb) maupun dengan konsep Tuhan dalam pandangan penggagas pluralisme agama. Baik agama lain maupun kaum pluralis, sama-sama menghadapi problem teologis. Kalangan non muslim membangun konsep Tuhan di atas landasan yang rapuh, sedangkan kalangan pluralis membangun doktrinnya di atas keraguan-raguan(skeptis)  dengan meragukan kebenaran yang seharusnya diyakini.



E.     Makna LAA ILAAHA ILLALLAH

Konsep Tuhan dalam Islam dirumuskan dalam al-Qur’an yang tergambar dalam syahadat tauhid “Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah” (tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah). Seseorang yang bertauhid, akan mengikrarkan dan meyakini, bahwa satu-satunya Tuhan yang berhak untuk disembah dan ditaati adalah Allah. Bukan Tuhan yang lain. Kemudian ia juga harus menyatakan bahwa Muhammad sebagai utusan Allah yang membawa risalah untuk mengenalkan Allah kepada hambanya. Tauhid disini dinamakan tauhidullah, yakni pengenalan dan pengakuan akan Allah Yang maha Esa sebagai satu-satunya Tuhan
Konsep Laa ilaaha illallah, banyak kita temukan dalam al-Qur’an, diantaranya, Dalam surah Muhammad ayat 13 , Allah telah menyatakan “ketahuilah bahwa tiada tuhan selain Allah. Dalam surah Thaha ayat 13-14, Allah berfirman, “ Aku memilihmu, maka perhatikan apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesunggunya Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain-Ku. Karena itu, sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat-Ku[10]. Ayat ini merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Kemudian juga dalam surat al-Isra’, Allah berfirman, “Tidak ada Tuhan selain Dia”.  Dari beberapa ayat tersebut,nampak jelas bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah.

Selain terdapat dalam Al-Qur’an, konsep Laa ilaaha illallah  juga terdapat dalam beberapa hadis. Diantaranya, dari ‘Abd Allah ibn Abi Qotadah dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda, siapa yang mengucap, ‘Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah’, dengan lisannya, dan dengan ini kalbunya tentram, niscaya ia diharamkan menghuni neraka. Riwayat lain, dari Mu’ad ibn Jabal meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Siapa yang akhir perkataannya Laa Ilaaha Illallah lalu meninggal Dunia, niscaya ia masuk surga.

F.     Makna Allah

Allah adalah sebutan atau nama Tuhan (tiada Tuhan selain Allah); wujud tertinggi, terunik; zat yang maha suci , yang maha mulia; daripada-Nya kehidupan berasal dan kepada-Nya kehidupan kembali. Para filsuf dizaman kuno menamai Allah swt. Antara lain dengan nama Pencipta, Akal Pertama, Penggerak pertama, Penggerak Yang tiada Bergerak, Puncak Cinta, dan Wajib al-Wujud. Allah SWT. Adalah tuntutan setiap jiwa manusia. Setiap puak dan bangsa manusia merasakan dan menyadari kehadiran-Nya sejak masa yang paling awal dan menamai-Nya menurut istilah-istilah yang mereka tentukan.[11]

Istilah nama Allah sebagai nama Tuhan, sangat jelas identik dengan konsep ketuhanan dalam Islam. Tidak ada agama lain, kecuali Islam yang tegas dan jelas serta sepakat menggunakan nama Lafadz Allah untuk menyebut nama Tuhan mereka. Karena tidak terdapat problem dalam penyebutan nama Tuhannya, maka dimana pun, kapan pun, dan siapapun, umat Islam akan selalu menyebut Tuhannya dengan  “Allah”. Hal ini dikarenakan nama Tuhan dalam Islam ditetapkan berdasarkan sumber yang utama, wahyu al-Qur’an, dan bukan berdasarkan tradisi ataupun budaya, ataupun konsensus (konsili). Karena itu, umat Islam tidak mengalami perselisihan tentang nama Tuhan. Dan soal nama Tuhan tersebut sudah final sejak awal.

Allah swt. (Allah, kata agung (lafadz al-jalalah) adalah nama diri (ism al-dzat) Tuhan, nama esensi dan totalitas-Nya. Kata itu tersusun dari empat huruf. Jika huruf  pertama, alif dihilangkan, tiga huruf  lainnya simbol alam semesta, wujud, yang mencakup alam nyata (dunya) dan langit gaib di atas cakrawala bintang gemilang; alam kubur (barzakh) dan surga; akhirat (akhirah) . Huruf pertama, alif, merupakan sumber segala sesuatu, dan huruf terakhir, hu (Dia), adalah sifat Allah yang paling sempurna, Yang Mahasuci dari semua sekutu.[12]

Secara kebahasaan, kata Allah sangat mungkin berasal dari kata al-Illah. Kata itu mungkin pula berasal dari bahasa aramea, Alaha yang artinya Allah. Kata Ilaah (Tuhan yang disembah) dipakai untuk semua yang dianggap sebagai Tuhan atau Yang maha Kuasa. Dengan penambahan huruf Alif laam di depannya sebagai kata sandang tertentu, maka kata Allah dari kata al-ilaah dimasudkan sebagai nama Zat Yang Maha Esa, Maka Kuasa, dan Pencipta Alam semesta. Kata Allah adalah satu-satunya ism alam atau kata yang menunjukkan nama yang dipakai bagi Zat yang Maha Suci. Nama-nama lain sekaligus mengacu pada sifat-sifat-Nya jika menunjukkan kealaman Zat Allah, seperti al-Aziz atau Yang Maha Perkasa, artinya Allah mempunyai sifat perkasa.

Konsep Allah juga telah ada sejak masyarakat Arab pra-Islam. Toshihiko Izutsu menerangkan masalah makna relasional kata Allah dikalangan orang-orang Arab pra-Islam dengan tiga kasus. Pertama, adalah konsep Pagan tentang Allah, yaitu orang Arab Murni. Di sini terlihat orang-orang Arab pra Islam yang berbicara tentang “Allah” sebagaimana yang mereka pahami. Kedua, orang-orang Yahudi dan Kristen zaman pra Islam yang menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan mereka sendiri. Di sini tentu saja “Allah  berarti Tuhan Injil. Ketiga, Orang-orang Arab  pagan, Arab jahiliyah murni non-kristen dan non-Yahudi yang mengambil konsep Tuhan Injil, “Allah”. Hal ini terjadi ketika seorang penyair Badwi yang bernama Nabighah dan Al-A’sha Al-Kabar menulis puisi pujian yang mengarah pada konsep Arap tentang Allah kearah monoteisme.[13] Konsep Allah menurut masyarakat Arab pra-Islam, khususnya penduduk Mekkah, dapat diketahui melalui al-Qur’an. Allah SWT bagi mereka adalah pencipta langit dan bumi, yang memudahkan peredaran matahari dan bulan, yang menurunkan air dari langit, tempat menggantungkan harapan.

Tuhan yang haq dalam konsep al-Quran adalah Allah. Hal ini dinyatakan antara lain dalam surat Ali Imran ayat 62, surat Shad 35 dan 65, surat Muhammad ayat 19. Dalam al-quran diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan yang diberikan kepada Nabi sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga. Perhatikan antara lain surat Hud ayat 84 dan surat al-Maidah ayat 72. Tuhan Allah adalah esa sebagaimana dinyatakan dalam surat al-Ankabut ayat 46, Thaha ayat 98, dan Shad ayat 4.

Menurut informasi al-Quran, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah sebutan “Allah”, dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah ada sejak datangnya Rasul Adam di muka bumi. Esa menurut al-Quran adalah esa yang sebenar-benarnya esa, yang tidak berasal dari bagian-bagiandan tidak pula dapat dibagi menjadi bagian-bagian.




Keesaan Allah adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau disejajarkan dengan yang lain. Sebagai umat Islam, yang mengikrarkan kalimat syahadat La ilaaha illa Allah harus menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan dan ucapannya. Konsepsi kalimat La ilaaha illa Allah yang bersumber dari al-quran memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari Tuhan yang lain selain Allah dan hal itu akan kelihatan dalam sikap dan praktik menjalani kehidupan.

Allah juga merupakan sebutan atau nama Tuhan (tiada Tuhan selain Allah); wujud tertinggi, terunik; zat yang maha suci , yang maha mulia; daripada-Nya kehidupan berasal dan kepada-Nya kehidupan kembali. Para filsuf dizaman kuno menamai Allah swt. Antara lain dengan nama Pencipta, Akal Pertama, Penggerak pertama, Penggerak Yang tiada Bergerak, Puncak Cinta, dan Wajib al-Wujud. Allah SWT. Adalah tuntutan setiap jiwa manusia. Setiap puak dan bangsa manusia merasakan dan menyadari kehadiran-Nya sejak masa yang paling awal dan menamai-Nya menurut istilah-istilah yang mereka tentukan.[14]

Secara kebahasaan, kata Allah sangat mungkin berasal dari kata al-Illah. Kata itu mungkin pula berasal dari bahasa aramea, Alaha yang artinya Allah. Kata Ilaah (Tuhan yang disembah) dipakai untuk semua yang dianggap sebagai Tuhan atau Yang maha Kuasa. Dengan penambahan huruf Alif laam di depannya sebagai kata sandang tertentu, maka kata Allah dari kata al-ilaah dimasudkan sebagai nama Zat Yang Maha Esa, Maka Kuasa, dan Pencipta Alam semesta. Kata Allah adalah satu-satunya ism alam atau kata yang menunjukkan nama yang dipakai bagi Zat yang Maha Suci. Nama-nama lain sekaligus mengacu pada sifat-sifat-Nya jika menunjukkan kealaman Zat Allah, seperti al-Aziz atau Yang Maha Perkasa, artinya Allah mempunyai sifat perkasa.

Dalam kaitannya penyebutan Allah sebagai sebutan Tuhan, kaum musyrik Quraisy dan kaum Yahudi bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Tuhannya mengutusnya membawa Risalah Islam. Mereka meminta beliau menerangkan Tuhannya serta menyebut kan nasab-Nya. Maka Allah SWT pun mengutus Jibril as. Dengan membawa surah al-Ikhlash (At-Tauhid). Dalam surah itu Allah swt berbicara kepada Rasul-Nya dengan menggunakan kalimat perintah:
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.

Surah al-Ikhlash ini berisi sebagian al-asma’ul husna. Pengertian “Allah Ahad’ adalah Allah itu satu, tak ada sekutu bagi-Nya, dan tak ada yang setara dengan-Nya. Ibnu Abbas dan sekelompok mufassir al-Qur’an berkomentar bahwa pengertian Allah Ahad adalah Allah itu satu, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.[15] Sebagian filsuf  Arab, diantaranya Ibnu Sina, berpendapat bahwa pengertian ‘Allah Ahad’’ adalah bahwa Allah itu satu (sendiri) dalam ketuhanan-Nya dan keterdahuluan-Nya, serta tidak ada sesuatupun  yang menyertai-Nya dalam sifat-sifat wajib-Nya. Dia wajib bersifat ada dan mengetahui segala sesuatu, hidup namun tidak akan mati, mengubah namun tidak pernah berubah.

Menurut sebagian pakar bahasa, Allah SWT. Berfirman, “Qul huwa Allahu Ahad”, bukan “Qul huwa Allahu Wahid”. Kata Wahid termasuk kategori bilangan sehingga sangat mungkin yang lainnya juga masuk ke dalamnya. Adapun kata Ahad tidak dapat dibagi lagi, baik dalam Zat-Nya maupun pengertian sifat-sifat-Nya.










BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Mengenai kekuasaan Allah Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Allah tidak disifati dengan sifat sifat makhluknya. Allah juga hidup, berkuasa, melihat, dan mengetahui. Tetapi kesemuanya itu tidak sama dengan apa yang dimiliki oleh makhluk ataupun manusia. Sehingga sifat Allah tidak boleh direka reka bentuknya, dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinya kekuasaannya dan nikmatnya, atau bahwa murka Allah adalah siksanya dan ridha Allah adalah pahalanya, karena hal itu berarti meniadakan sifat sifat Allah, sebagaimana pendapat yang dipegang oleh ahli qadar dan golongan muktazilah. Beliau juga menyatakan bahwa orang yang menyifati Allah dengan sifat sifat manusia berarti ia telah kafir.
Mengenai kekuasaan Allah tentu saja kita akan merujuk kepada ayat ayat yang menjelaskan hal itu. Dalam kaitannya dengan kekuasaan, Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 20:
ߊ%s3tƒ ä-÷Žy9ø9$# ß#sÜøƒs öNèdt»|Áö/r& ( !$yJ¯=ä. uä!$|Êr& Nßgs9 (#öqt±¨B ÏmŠÏù !#sŒÎ)ur zNn=øßr& öNÍköŽn=tæ (#qãB$s% 4 öqs9ur uä!$x© ª!$# |=yds%s! öNÎgÏèôJ|¡Î/ öNÏd̍»|Áö/r&ur 4 žcÎ) ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÉÈ  
Artinya :
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.(Q.S. Al Baqarah : 20).[16]


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi.1992.Semarang: Toha Putra, jilid 1.
Bahrun Abu Bakar,L.C dengan judul Tafsir Jalalain Berikut Asbaabun Nuzul Ayat, Cet. IV, Bandung: Sinar Baru, 1997.
Departemen Agama, AL Quran terjemah, Semarang, Toha Putra, 2007.
Fakhruddin al-Razi, Kecerdaan Bertauhid, (Terj. ‘Ajaib al-Qur’an), (Jakarta: Zaman, 2011).
Harun Nasution,  Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 1986.
Isma'il Raji Al-Faruqi, Al-Tawhid. Cetakan IV. The International Institute of Islamic Thought, (Herndon USA, 1992).
Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, diterjemahkan
K.H.Salihun A. Nasir, Pemikiran Kalam, Rajawali Pers, Jakarta.2010.
Khafrawi Ridwan, MA,  Ensiklopedia Islam, (Jakarta: ichtiar baru Van Hoeve, 1997).
Muhammad kamil Hasan Al-Mahami, Al-Maushu’ah al-Qur’aniyyah (terj. Ahmad Fawaid Syadzili; Ensiklopedi Al-Qur’an), (Jakarta Timur: Kharisma Ilmu, 2005).

S.M. Naquib Al-Attas, Prolegomena To The Metaphisics of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).
Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia Pendekatan Semantik Terhadap Al-Qur’an, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003).





[1] Departemen Agama, (2007), AL Quran terjemah, Semarang, Toha Putra. Hlm. 5
[2] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi.1992. Semarang : Toha Putra, jilid 1. Hlm. 84.
[3] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, diterjemahkan Bahrun Abu Bakar,L.C dengan judul Tafsir Jalalain Berikut Asbaabun Nuzul Ayat, Cet. IV, Bandung: Sinar Baru, 1997, h. 511-512

[4]  Harun Nasution, (1986), Teologi Islam, UI-Press, Jakarta. Hlm. 35
[5] K.H.Salihun A. Nasir, (2010), Pemikiran Kalam, Rajawali Pers, Jakarta. Hlm. 144
[6] Ibid, Harun Nasution. Hlm. 35
[7] Ibid, Harun Nasution, Hlm.64  
[8] S.M. Naquib Al-Attas, Prolegomena To The Metaphisics of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995),
[9] Isma'il Raji Al-Faruqi, Al-Tawhid. Cetakan IV. The International Institute of Islamic Thought, (Herndon USA, 1992).
[10] Departemen Agama, (2007), AL Quran terjemah, Semarang, Toha Putra.
[11] Khafrawi Ridwan, MA,  Ensiklopedia Islam, (Jakarta: ichtiar baru Van Hoeve, 1997), hal. 123-124
[12] Fakhruddin al-Razi, Kecerdaan Bertauhid, (Terj. ‘Ajaib al-Qur’an), (Jakarta: Zaman, 2011)

Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia Pendekatan Semantik Terhadap Al-Qur’an, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hal. 105.

[14] Khafrawi Ridwan. Ensiklopedia Islam, (Jakarta: ichtiar baru Van Hoeve, 1997), hal. 123-124
[15] Muhammad kamil Hasan Al-Mahami, Al-Maushu’ah al-Qur’aniyyah (terj. Ahmad Fawaid Syadzili; Ensiklopedi Al-Qur’an), (Jakarta Timur: Kharisma Ilmu, 2005), hal. 20-21

[16] Departemen Agama, (2007), AL Quran terjemah, Semarang, Toha Putra. Hlm. 5