Senin, 13 Juli 2015

Cara Mudik Islami



Masa mudik telah tiba. Banyak yang bersiap-siap hendak mudik ke kampung halaman. Moga catatan  ini dapat menambah “bekal” untuk mudik;
• Persiapkan bekal mental sebagaimana kita mempersiapkan bekal materi. Karena mudik biasanya membutuhkan persiapan ekstra dan menempuh perjalanan panjang, sedangkan safar, sebagaimana sabda Rasulullah saw, adalah ‘Sebagian dari azab.’ Keletihan dan berbagai problema sebelum, selama dan sesudah perjalanan, pastinya tidak terhindarkan.
• Usahakan menyertakan keluarga jika memungkinkan. Hal tersebut akan semakin menghangatkan hubungan keluarga disamping dapat menjadi pendamping yang dapat memberikan bantuan dalam safar. Rasulullah saw selalu mengajak salah seorang isterinya, bahkan kadang lebih dari satu isterinya, dalam setiap perjalanan. Atau upayakan jangan safar seorang diri, tapi ada teman pendamping yang dapat saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan. Setan lebih dekat kepada orang yang sendiri, semakin banyak orangnya, setannya semakin menjauh.
• Para wanita secara khusus hendaknya melakukan safar dengan di dampingi mahramnya, sebagaimana pesan Rasulullah saw dalam masalah ini.
• Perdebatan wajib tidaknya mahram di antara para ulama, semestinya tidak membuat seseorang menganggap remeh masalah tersebut. Kecuali jika ada kondisi khusus dalam masalah ini.
• Selesaikan urusan-urusan pribadi yang berkaitan dengan orang lain, jika memungkinkan. Seperti mengembalikan barang titipan, melunasi utang, memenuhi janji-janji, dll. Kalaupun tidak mungkin, sedapatnya meminta maaf dan minta izin kepada orang yang bersangkutan, sambil mempertegas kewajiban-kewajiban yang belum tertunaikan. Rasulullah saw, ketika hendak berangkat hijrah, tidak hanya menugaskan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya dengan tujuan mengelabui kaumkafir Quraisy yang hendak membunuhnya, tapi beliau juga menugaskannya untuk mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepadanya dari masyarakat Mekah.
• Jika ada tanggung jawab terkait dengan tugas pekerjaan atau kedudukan, hendaknya jangan pergi sebelum tugasnya tersebut dilimpahkan dengan jelas kepada orang lain. Banyak kesulitan yang didapati orang-orang yang membutuhkan karena pelimpahan tugas yang tidak jelas. Juga termasuk kebiasaan Rasulullah saw, setiap kali akan pergi ke luar kota Madiah, beliau melimpahkan tugas kepemimpinankepada salah seorang shahabatnya untuk menunaikan tugas-tugas di Madinah.
• Beritahu orang-orang terdekat tentang rencana safar tersebut seraya meminta doa keselamatan atau saling mendoakan serta menyampaikan harapan-harapan serta keinginan-keinginan. Di samping secara sosial hal tersebut akan menambah kedekatan dan kehangatan hubungan sosial kita, dibanding misalnya jika seseorang melakukan safar begitu saja tanpa pesan.
• Jangan lupa persiapkan oleh-oleh yang layak diberikan kepada kerabat. Tidak harus mahal, tapi cukup sebagai untaian kasih sayang dan persaudaraan. “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai….” Begitu sabda Rasulullah saw.
• Perhatikan dan praktekkan zikir-zikir dan doa yang terkait dengan safar, seperti ucapan yg dibaca kepada orang yang ditinggalkan, doa naik kendaraan, doa safar, doa ketika singgah, dll.
Secara umum disunahakan memperbanyak doa, karena saat safar termasuk waktu yang mustajabah (terkabulnya doa).
• Lebih utama jika safar dimulai pada pagi hari, karena Rasulullah saw biasanya apabila mengirim pasukan, beliau melepasnya pada pagi hari. Di samping waktu pagi adalah waktu yang didoakan Rasulullah saw mendapatkan keberkahan. Namun hal ini bukan berarti selain waktu tersebut akan mendatangkan kesialan apabila kita melakukan safar. Justeru keyakinan seperti ini (adanya waktu-waktu sial untuk memulai safar) adalah keyakinan keliru dan menjurus kepada kesyirikan.
Termasuk keyakinan syirik apabila seseorang mengurungkan safarnya karena tanda-tanda yang dia yakini mendatangkan kesialan, seperti jika melihat burung terbang ke kiri dan semacamnya, hal ini dikenal dengan istilah tathayyur.
• Perhatikan pula ketentuan ibadah dalam safar, khususnya terkait keringanan (rukhshah) shalat dalam safar. Seperti kapan mulai shalat qashar jamak, bagaimana caranya dan beberapa kasus yang terjadi. Intinya, shalat tidak boleh ditinggalkan dalam safar, namun di sana ada keringanan yang diberikan syariat.
• Setibanya di kampung halaman, kalau memungkinkan disunnahkan shalat dua rakaat sebelum tiba di rumah. Dapat dicari masjid terdekat. Sebagaimana halnya Rasulullah saw biasa melakukannya.
• Shalat sunah dua rakaat sebelum tiba di rumah, dipahami oleh para ulama sebagai pemberiantahu akan kedatangan. Jangan sampai seseoran pulang ke kampungnya halamannya, tidak ada seorang pun yang diberitahu sebelumnya, ‘ujuj-ujug’ tahu-tahu sudah ada di depan pintu. Hal ini tentu tidak layak.
• Upayakan sedapat mungkin mengunjungi kerabat; Terutama orang tua, para saudara, paman atau bibi, kakek dan kerabat jauh. Inilah yang paling tepat dikatakan silaturrahim, yaitu menyambung hubungan kepada orang-orang yang memiliki kekerabatan dan pertalian darah. Semakin dekat kekerabatannya, semakin kuat tuntutan silaturhim kepadanya. Jangan sampai sudah ke rumah sahabat dan berjalan-jalan ke sana-sini, sebelum kita mendatangi para kerabat. Apalagi jika lokasinya dekat dan mudah dijangkau. Bahkan jika kerabat tersebut terkesan memutuskan hubungan, justeru nilai silaturrahim yang hakiki, sebagaimana sabda Rasulullah saw, adalah manakala kita berusaha menyambung hubungan sementara kerabat kita berusaha memutuskannya.
• Jika orang tua sudah meninggal, jangan lupa berziarah ke kuburnya, mendoakan dan memohonkan ampunan untuknya. Selebihnya termasuk bagian birrulwalidain kepada orang tua yang sudah meninggal, hendaknya kita mengunjungi orang yang dekat dengan orang tua kita semasa hidupnya, sebagaimana hal tersebut Rasulullah saw katakan.
• Hindari sikap, perkataan dan penampilan yang memberi kesan bahwa kita memiliki kelebihan di hadapan kerabat, apalagi tindakan yang nyata-nyata menunjukkan kesombongan, baik dalam urusan dunia maupun agama. Kedepankan sikap ramah, tawadu, merasa perlu dengan raut muka berseri dan penuh perhatian. Hindari sejauh-jauhnya tindakan yang memberi kesan meremehkan atau yang dapat mengundang ketersinggungan.
• Jangan lupa tetap dalam aktifitas ibadah dan dakwah di kampung halaman. Agar masa liburan kita tidak melulu berisi dengan kegiatan senang-senang dan hura-hura, tapi juga bernilai ibadah dan dakwah.
Beberapa Zikir dan Doa terkait;
Ucapkan kepada orang yang anda tinggalkan;
« أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهُ الَّذِي لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ »
“Aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan barang yang dititipkan” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Doa yang dibaca orang yang ditinggal kepada musafir :
« أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ »
“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan akhir perbuatanmu” (HR. Ahmad dan Tirmizi)
Doa ketika memulai perjalanan, berdoalah:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ اْلعَمَـلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، الَّلهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيْفَةُ فِي الأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُـوْذُ بِكَ مِنْ وَعَثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْل
ِ
“Allah Maha Besar 3x, Maha suci Tuhan Yang mengusahakan kami untuk mengendarai ini. Sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan (dihari kia-mat). Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meredhokanmu. Ya Allah, permudahlah perja-lanan kami ini, dan jadikanlah perjalanan yang jauh seolah-olah dekat. Ya Allah, Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan harta dan keluarga yang jelek”.
Apabila kembali, doa di atas dibaca lagi dan ditambah:
آيِبُوْنَ، تَائِبُوْنَ، عَابِدُوْنَ، لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
“Kami kembali dengan bertobat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Tuhan Kami“
Doa ketika singgah di sebuah tempat
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التاَّمَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna dari keburukan apa yang Dia ciptakan“ (HR. Muslim)
Doa ketika singgah di sebuah negeri/kota
« اللَّـهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَاْلأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنِ وَمَا أَضْلَلْنَ وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ ، أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا »
“Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya, Tuhan penguasa tujuh bumi dan apa yang ada diatasnya, Tuhan yang menguasai syetan-syetan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhan yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya. Aku mohon kepada-Mu kebaikan desa ini, keluarga dan apa yang ada didalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan desa, penduduk dan apa yang ada di dalamnya”

Sabtu, 04 Juli 2015

HIKMAH ULANG TAHUN


Menelusuri kembali blog muhasabah milad saya yang ke 22 pada postingan ini, membuat saya berfikir akan mementuk perubahan yang saya capai selama setahun ini. Terngiang jelas wejangan Imam Al Ghazali tentang makna waktu bahwa “Yang terjauh dari diri seorang manusia adalah MASA LALUnya”.
Hari ini, persis sehari setelah milad ke 22 tahun hitungan dunia keberadaan saya di dunia fana dan semu ini. 1 tahun berkurang jatah hidup dan 1 tahun bertambah hitungan mundur sisa hidup saya.
Tulisan ini ada diiringi lagu Opick berjudul “Bila waktu telah berakhir” kira-kira syairnya spt ini;
Bila waktu telah berakhir, teman sejati tinggallah amal. Bila waktu telah terhenti teman sejati tinggallah sepi.
Kemudian terngiang di fikiran saya akan nasihat Iman Al Ghazali yang lain bahwa “Yang terdekat dari seorang manusia adalah KEMATIANnya sendiri”.Betapa sebuah nasihat yang luar biasa bermakna, sangat menyentuh dan tentunya sarat dengan ilmu illahi yang sangat dalam untuk digali lebih lanjut. Sebuah perjalanan panjang yang akan saya hadapi nanti, anda juga akan menghadapinya. Pertanyaannya, Are you ready? Ready gak ready yaah musti ready-laah… ;)
Saya teringat kala seseorang  yang menderita asma, dia menyiapkan obat khusus asma yang dibawanya kemanapun dia pergi dan selalu ada di kantong atau tasnya. Obat itu dipergunakannya pada saat penyakit asmanya kambuh, anytime…anywhere…obat tsb harus selalu ada di dekat dirinya. dia saya selalu “menyiapkan” obat tersebut untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak di inginkan apabila penyakti asmanya kambuh yang tak kenal tempat dan waktu. Persiapan semakin matang dikala dia melakukan perjalanan jauh untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dinginkannya. Bahkan bukan hanya dirinya yang menyiapkan obat tersebut, seluruh keluarganyapun tak luput dari persiapan dan selalu memberi “warning” kepadanya agar siap sedia dgn obat tsb. Jadi “persiapan” akan kambuhnya penyakit asma tsb bersifat jama’ah karena kepedulian keluarga thd kesehatan dirinya.
Bagaimana sikap kita dengan KEMATIAN kita? Sebuah kondisi yang melebihi kondisi sakit penyakit asma atau bahkan penyakit yang paling parah sekalipun. Sudah seberapa besar persiapan kita untuk KEMATIAN kita? Sudah seberapa peduli keluarga kita untuk mengingatkan dan membantu mempersiapkan diri kita menghadapi KEMATIAN kita? Apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi sesuatu yang pasti tersebut. Tidak semua orang mengalami penyakit asma, namun tidak satupun orang yang akan luput dari KEMATIANNYA sendiri. Pintu gerbang menuju tempat yang abadi dan panjang untuk kita jalani. Nerakakah atau Surgakah tempat kembali kita nanti? Hanya 2 tempat itu yang akan jadi muara segala kegiatan kehidupan kita sekarang ini dan alangkah naifnya apabila seorang manusia hanya mempunyai satu tujuan muara kehidupannya, dunia.
Dunia tidak lebih sebagai tempat nongkrong yang tidak berguna yang berisi candaan dan gurauan semata. Allah swt mengingatkan kita akan hal itu dalam surat Al An’am:32.
Dan tidaklah Dunia ini selain permainan dan senda gurau belaka.
Yup! Canda dan gurau belaka KECUALI bagi orang-orang beriman yang mempergunakannya untuk mempersiapkan bekal dengan berbagai kegiatan ibadah, berbagi kebaikan, sedekah dan amal jariyah lainnya. Lalu coba korelasikan ayat di atas dengan ayat lain pada surat Ali Imran: 185 berikut ini:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Bila kita kembalikan pada arti mainstream sebuah milad atau ulang tahun, milad  biasa dirayakan dengan canda tawa, pesta meski kecil-kecilan, berbagi senyum dan bahkan berbagi do’a yang terkesan basa basi karena doa-doa yang dipanjatkan tidak menyebutkan nama Allah dalam pengharapannya. Dikatakan “Semoga panjang umur” dan bukan  “Semoga Allah memanjangkan umur kamu penuh keberkahan”…dikatakan “Semoga Sukses selalu” dan bukan “Semoga Allah memberikan kesuksesan kepada kamu”. Bukankah itu basa basi namanya?
Pantaskah kita merayakan hilangnya waktu? Sudikah kita merayakan  bertambahnya peluang mendekati kematian? Sudah seberapa siap dan urgentkah kita menanti berakhirnya waktu kita? Sebuah proses tentunya  melebihi sakitnya asma yang kambuh. Are you ready?
Ya Allah, Rabb ku yang Maha Agung dan Maha Tingi…berkahilah sisa umurku ini, matikanlah aku dalam keadaan khusnul khatimah. Amien