Sabtu, 11 Maret 2017

Penelitian Tindakan Kelas


A.      Pendekatan dan Metode PTK
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Peneliti memutuskan menggunakan metode ini dikarenakan PTK dilaksanakan di dalam kelas ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.
Penelitian Tindakan kelas terdiri atas tiga kata yakni penelitian, tindakan dan kelas. Adapun pengertian penelitian tindakan kelas menurut Suharsimi Arikunto adalah:
1.         Penelitian berarti menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2.         Tindakan berarti menunjukkan pada suatu gerakan kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa
3.         Kelas berarti dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.[1]

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.[2]
B.       Langkah-Langkah Penelitian
Adapun langkah-langkah yang peneliti laksanakan dalam penelitian ini yaitu penelitian ini direncanakan akan menggunakan tiga siklus, tiap siklus tersebut fungsinya untuk melihat perubahan hasil belajar siswa. Bila dengan tiga siklus siswa belum tuntas dalam belajar maka penelitian ini dilaksanakan dengan siklus selanjutnya agar hasil belajar siswa menjadi lebih baik lagi.
Beberapa ahli mengemukakan model penelitian tindakan kelas dengan bagan yang berbeda-beda, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim untuk dilalui. Kurt Lewin menyatakan tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1.         Perencanaan (planning)
2.         Pelaksanaan (acting)
3.         Pengamatan (observing) dan
4.         Refleksi (reflection).[3]

Dalam penelitian tindakan ini, peneliti bertindak sebagai pelaksana  tindakan, sedangkan guru dan Pembantu Kepala Madrasah I (PKM I) bertindak sebagai mitra peneliti yang akan mengobservasi dan sebagai kolaborator dalam pembelajaran di dalam kelas. Proses penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam rangkaian siklus, dan setiap siklus akan dilakukan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai.
Adapun rincian rancangan penelitian tindakan kelas ini akan diuraikan sebagai berikut:
1.         Perencanaan Tindakan
a.         Menyusun rencana pembelajaran (RPP) sesuai dengan materi ajar yang diajarkan dengan menerapkan metode guided note taking.
b.         Menyiapkan sumber belajar
c.         Menyiapkan lembar kerja atau handout yang akan diisi siswa.
d.        Menyiapkan soal-soal evaluasi (pre-test dan pos-test).
2.         Pelaksanaan Tindakan
a.         Peneliti memberikan pre-test untuk melihat kemampuan dan hasil belajar awal siswa sebelum tindakan.
b.         Peneliti melakukan pembelajaran di dalam kelas sesuai dengan RPP yang telah disusun.
c.         Peneliti melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode guided note taking.
1)        Peneliti membagikan handout yang akan diisi oleh siswa ketika guru sedang menyampaikan materi pelajaran
2)        Peneliti meminta beberapa siswa untuk membacakan hasil catatan handout yang telah dibuatnya.
3)        Peneliti melakukan tanya jawab dengan siswa tentang materi yang diajarkan.
4)        Peneliti memberikan soal pos test kepada siswa untuk melihat penguasaan mereka terhadap materi ajar pada siklus terakhir (siklus III) .
3.         Pengamatan (observasi)
a.         Guru mengamati pembelajaran yang peneliti lakukan dan PKM I mengobservasi tindakan siswa ketika peneliti melaksanakan pembelajaran di kelas.
b.         PKM I melihat dan mencatat respon siswa ketika penelliti melaksanakn pembelajaran
c.         Peneliti mewawancarai beberapa siswa setiap selesai melaksanakan tindakan untuk mengetahui pembelajaran yang dilakukan.
4.        Refleksi
a.         Peneliti mendiskusikan dengan guru dan PKM I tentang data observasi atau catatan lapangan dan wawancara yang berkenaan dengan pelaksanaan pembelajaran yang diterapkan di kelas.
b.         Berdasarkan hasil diskusi tersebut maka dilakukan tindakan selanjutnya.




[1]Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 2-3.
[2]Ibid.
[3]Syafaruddin, dkk. Panduan Penulisan Skripsi (Medan: Kemenag IAIN Sumut Fakultas Tarbiyah, 2011), h. 21.
[4]Suharsimi Arikunto, h. 74

Sejarah Kebudayaan Islam


Sejarah Kebudayaan Islam
a.        Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam
Sejarah Kebudayaan Islam diartikan sebagai kisah-kisah yang didalamnya terdapat cara-cara hidup yang ditempuh manusia dalam keaneka ragamannya untuk mencapai suatu tujuan.[1] Ada juga yang mendefinisikan Sejarah Kebudayaan Islam merupakan kemajuan politik atau kekuasaan Islam yang berperan melindungi pandangan hidup Islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah, penggunaan bahasa dan kebiasaan hidup bermasyarakat.[2]
Sidi Gazalba dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam memberikan definisi tentang Sejarah Kebudayaan Islam sebagai cara berpikir dan cara merasa Islam yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari golongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu.[3]
Yatimin Abdullah dalam bukunya Studi Islam Kontemporer menegaskan bahwa Sejarah Kebudayaan Islam adalah keterangan yang telah terjadi pada masa lampau atau pada masa yang masih ada.[4] Sedangkan menurut Abuddin Nata dalam bukunya yang berjudul Metodologi Studi Islam yang dimaksud dengan Sejarah Kebudayaan Islam adalah peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh terjadi yang seluruhnya berkaitan dengan agama Islam. Di antara cakupannya itu ada yang berkaitan dengan sejarah proses pertumbuhan, perkembangan dan penyebarannya, tokoh-tokoh yang melakukan pengembangan dan penyebaran agama Islam tersebut, sejarah kemajuan dan kemunduran yang dicapai oleh umat Islam dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan umum, kebudayaan, arsitektur, politik pemerintahan, peperangan, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya.[5]
Sejarah Kebudayaan Islam adalah salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang ada di Madrasah. SKI merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidu­pannya yang dilandasi oleh akidah. Mata pelajaran SKI memiliki karakteristik yang menekankan pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek. dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah merupakan salah satu mata pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/ peradaban Islam  di masa lampau, mulai dari dakwah Nabi Muhammad pada periode Mekah dan periode Madinah, kepemimpinan umat setelah Rasulullah saw. wafat, sampai perkembangan Islam periode klasik (zaman keemasan) pada tahun 650 M–1250 M, abad pertengahan/zaman kemunduran (1250 M–1800 M), dan masa modern/zaman kebangkitan (1800-sekarang), serta perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia. Secara substansial mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada siswa untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan,  membentuk sikap, watak, dan kepribadian siswa.
b.        Tujuan Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah bertujuan agar siswa memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut:
1)        Membangun kesadaran siswa tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam  yang telah dibangun oleh Rasulullah saw. dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
2)        Membangun kesadaran siswa tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan  sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan
3)        Melatih daya kritis siswa untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
4)        Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan siswa terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa lampau.
5)        Mengembangkan  kemampuan siswa dalam mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-lain untuk mengembangkan Kebudayaan dan peradaban Islam.
c.         Ruang Lingkup Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Ruang lingkup mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam di Madrasah Aliyah meliputi :
1)        Dakwah Nabi Muhammad pada periode Mekah dan periode Madinah.
2)        Kepemimpinan umat setelah Rasulullah saw. wafat.
3)        Perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (pada tahun 650 M-1250 M).
4)        Perkembangan Islam pada abad pertengahan/zaman kemunduran (1250 M-1800 M).
5)        Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan (1800-sekarang). 
6)        Perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia.[6]




[1]Ustadz Muhammad Khair Abdul Kadir, Konsepsi Sejarah Islam dalam Sorotan, Terj.dari Tarikhuna Fi Dlau’i al-Islam, oleh Nabhan Husein (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), Cet.II, h. 64.
[2]Ahmad Hasimy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h.14.
[3]Sidi Gazalba, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1999), h. 2.
[4]Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer (Jakarta: Amzah, 2006), h. 202.
[5]Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006), h. 314.
[6]Permenag No. 2 Tahun 2008

Metode GNT (Guided Note Taking)

GUIDED NOTE TAKING

Metode Guided Note Taking
a.        Pengertian Metode Guided Note Taking
Kalimat Guided Note Taking yang biasa disingkat dengan GNT berisi 3 (tiga) kata yakni guide, note dan taking. Secara etimologi guided berasal dari kata guide sebagai kata benda berarti buku pedoman, pemandu, dan sebagai kata kerja berarti mengemudikan, menuntun, menjadi petunjuk jalan, membimbing dan mempedomani. Sedangkan guided sebagai kata sifat berarti kendali.[1] Note berarti catatan dan taking sebagai kata benda yang berasal dari take mempunyai arti pengambilan.[2]
Secara terminologi guided note taking (GNT) atau catatan terbimbing adalah metode yang digunakan guru dengan menyiapkan suatu bagan, peta konsep, skema (handout) sebagai media yang dapat membantu siswa dalam membuat catatan ketika seorang guru sedang menyampaikan pelajaran dengan metode ceramah. Tujuan metode GNT adalah agar metode ceramah yang diterapkan oleh guru mendapat perhatian yang serius dari siswa, terutama pada kelas yang jumlah siswanya cukup banyak.[3] Hal itu berarti bahwa GNT tidak dapat dipisahkan dari metode ceramah, bahkan merupakan suatu metode yang memberi bantuan agar penyajian secara ceramah dapat ditingkatkan menjadi pembelajaran aktif (active learning). Oleh karena itulah Silberman mengelompokkan metode ini ke dalam pembelajaran aktif pada kelas penuh (banyak) untuk membantu siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara aktif.[4]
Ceramah merupakan salah satu metode mengajar yang paling banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Metode ini dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara langsung atau dengan cara lisan. Penggunaan metode ini sifatnya sangat praktis dan efisien bagi pemberian pengajaran yang bahannya banyak dan mempunyai banyak siswa. Metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama dijalankan dalam sejarah pendidikan. Oleh karena itu metode ini boleh dikatakan sebagai metode pengajaran tradisional karena sejak dulu metode ini digunakan sebagai alat komunikasi guru dalam menyampaikan materi pelajaran.
Menggunakan metode ceramah banyak dipandang sebagai cara penyajian pelajaran yang buruk dan banyak dihujat sebagai faktor yang ikut menurunkan prestasi belajar. Hal ini boleh jadi benar, terutama, jika semua penyajian bahan pembelajaran sejak awal hingga akhir semuanya disajikan dengan berceramah.
Terlepas dari “hujatan” sebagian orang terhadap metode ceramah, pernyataan Dirta Hadisusanto dan Maman Achdiat, perlu disimak terlebih dahulu ketika mengatakan:
Apakah ceramah masih ada gunanya sebagai metode mengajar? Jawaban atas pertanyaan tersebut tergantung pada ‘digunakan untuk apa’ Metode Ceramah itu. Dari berbagai hasil penelitian tentang efektifitas Metode Ceramah dibandingkan dengan metode-metode yang lain, dapat dikemukakan secara garis besar bahwa Metode Ceramah sangat efektif untuk menyampaikan informasi dan bahan-bahan yang bersifat informatif. Namun metode ceramah tidak akan efektif kalau digunakan untuk usaha-usaha meningkatkan penalaran atau untuk mengubah/mengembangkan sikap tanpa variasi dalam teknik penggunaannya.[5]

Pernyataan di atas menegaskan bahwa ceramah tidak selamanya buruk, bahkan sangat efektif untuk penyajian yang bersifat informatif, apalagi penyajian dengan metode yang bervariasi. Apalagi metode ceramah dapat dimodifikasi dan digabung dengan metode penyajian bahan yang lain.
Metode ceramah, menurut Suryono dkk., memiliki beberapa kelebihan yaitu:
1)        Dapat menampung kelas besar, tiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan, dan karenanya biaya yang diperlukan menjadi relatif lebih murah.
2)        Konsep yang disajikan secara hirarki akan memberikan fasilitas belajar kepada siswa.
3)        Guru dapat memberi tekanan terhadap hal-hal yang penting hingga waktu dan energi dapat digunakan sebaik mungkin.
4)        Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat bantu pelajaran, tidak menghambat terlaksananya pelajaran dengan ceramah.[6]

Sedangkan beberapa kelemahan metode ceramah yang perlu diantisipasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menggunakan metode ceramah adalah sebagai berikut:
1)        Pelajaran berjalan membosankan dan siswa-siswa dapat menjadi pasif, karena tidak berkesempatan untuk menemukan sendiri oleh konsep yang diajarkan. Siswa hanya aktif membuat catatan saja.
2)        Kepadatan konsep-konsep yang diberikan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.
3)        Pengetahuan yang diperoleh melaui ceramah lebih cepat terlupakan.[7]

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik benang merahnya, bahwa untuk kelas besar, maka metode ceramah masih dapat dipandang sebagai cara terbaik terutama dalam penyajian yang bersifat informatif, dengan meminimalisir kelemahan-kelemahan yang terdapat pada metode ceramah.
Beberapa cara yang efektif untuk meminimalisasi kelemahan-kelemahan metode ceramah dapat dilakukan dengan beberapa cara: [8]
1)        Membangkitkan minat siswa:
a)         Memapaparkan kisah atau tayangan menarik, dengan menyajikan anekdot yang relevan, kisah fiksi, kartun atau gambar grafis yang bisa menarik perhatian siswa terhadap apa yang akan dijelaskan.
b)        Mengajukan soal cerita, dengan mengajukan soal yang nantinya akan menjadi bahan sajian dalam penyampaian materi dengan metode ceramah.
c)         Pertanyaan penguji, dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa (apersepsi) agar mereka termotivasi untuk mendengarkan ceramah dalam rangka mendapatkan jawabannya.
2)        Memaksimalkan pemahaman dan pengingatan:
a)         Membuat headline, dengan menyusun kembali point-point utama dalam ceramah menjadi kata-kata kunci yang berfungsi sebagai subjudul verbal atau bantuan mengingat.
b)        Membuat contoh dan analogi, dengan memberikan gambaran nyata tentang gagasan dalam penceramahan dan jika memungkinkan membuat perbandingan antara materi dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki siswa.
c)         Membuat cadangan visual, dengan menggunakan grafik lipat, transparansi, buku pegangan yang memungkinkan siswa melihat dan mendengar apa yang disampaikan.
3)        Melibatkan siswa selama ceramah berlangsung:
a)         Tantangan kecil, dengan melakukan interupsi ceramah secara berkala dan guru menantang siswa untuk memberikan contoh tentang konsep-konsep yang telah disajikan.
b)        Latihan yang memperjelas, yaitu selama guru menyajikan materi, maka guru menyelinginya dengan kegiatan-kegiatan yang memperjelas apa yang sedang disampaikan.
3)        Memperkuat apa yang telah disampaikan:
a)         Membuat soal penerapan, dengan mengajukan masalah atau pertanyaan untuk dipecahkan oleh siswa berdasarkan informasi yang disampaikan selama proses pembelajaran.
b)        Tinjauan siswa, dengan memerintahkan siswa untuk meninjau isi dari penyampaian pelajaran kepada sesama siswa, atau memberi siswa tes penilaian diri.
Salah satu metode pembelajaran yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan metode ceramah, dan meningkatkannya menjadi pembelajaran aktif (active learning), adalah metode GNT.[9] Dalam hal ini siswa dibimbing untuk membuat catatan-catatan penting secara terarah, dan bukan catatan-catatan yang sia-sia.
b.        Kunggulan Metode GNT
1)        Metode pembelajaran ini cocok untuk kelas besar dan kecil.
2)        Metode pembelajaran ini dapat digunakan sebelum, selama berlangsung, atau sesuai kegiatan pembelajaran.
3)        Metode pembelajaran ini cukup berguna untuk materi pengantar.
4)        Metode pembelajaran ini sangat cocok untuk materi-materi yang mengandung fakta-fakta, sila-sila, rukun-rukun atau prinsip-prinsip dan definisi-definisi.
5)        Metode pembelajaran ini mudah digunakan ketika peserta didik harus mempelajari materi yang bersifat menguji pengetahuan kognitif.
6)        Metode pembelajaran ini cocok untuk memulai pembelajaran sehingga peserta didik akan terfokus perhatiannya pada istilah dan konsep yang akan dikembangkan dan yang berhubungan dengan mata pelajaran untuk kemudian dikembangkan menjadi konsep atau bagan pemikiran yang lebih ringkas.
7)        Metode pembelajaran ini dapat digunakan beberapa kali untuk merangkum bab-bab yang berbeda.
8)        Metode pembelajaran ini cocok untuk menggantikan ringkasan yang bersifat naratif atau tulisan naratif yang panjang.
9)        Metode pembelajaran ini dapat dimanfaatkan untuk menilai kecenderungan seseorang terhadap suatu informasi tertentu
10)    Metode pembelajaran ini memungkinkan siswa belajar lebih aktif, karena memberikan kesempatan mengembangkan diri, fokus pada handout dan materi ceramah serta diharapkan mampu memecahkan masalah sendiri dengan menemukan (discovery) dan bekerja sendiri.
c.         Kelemahan Metode GNT
1)        Jika guided note taking digunakan sebagai metode pembelajaran pada setiap materi pelajaran, maka guru akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2)        Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang ditentukan.
3)        Kadang-kadang sulit dalam pelaksanaan karena guru harus mempersiapkan handout atau perencanaan terlebih dahulu, dengan memilah bagian atau materi mana yang harus dikosongkan dan pertimbangan kesesuaian materi dengan kesiapan siswa untuk belajar dengan metode pembelajaran tersebut.
4)        Guru-guru yang sudah terlanjur menggunakan metode pembelajaran lama sulit beradaptasi pada metode pembelajaran baru.
5)        Menuntut para guru untuk lebih menguasai materi lebih luas lagi dari standar yang telah ditetapkan.
6)        Biaya untuk penggandaan handout bagi sebagian guru masih dirasakan mahal dan kurang ekonomis.[10]
d.        Metode GNT sebagai Pembelajaran Aktif
Kata pembelajaran adalah terjemahan dari instruction, yang banyak dipakai di dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Istilah ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif holistik yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan. Selain itu, istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media, seperti bahan-bahan cetak, internet, televisi, gambar, audio, dan sebagainya, yang secara keseluruhan mendorong terjadinya perubahan peran guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi guru sebagai fasilitator dalam belajar mengajar. Hal ini seperti yang diungkapkan Robert M. Gagne yang menyatakan bahwa “Instruction is a set of event that effect learners in such a way that learning is facilitated”.[11] Oleh karena itu mengajar menurut Gagne, merupakan bagian dari pembelajaran, dengan konsekuensi peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu.[12]
Metode GNT merupakan salah satu metode yang menggunakan pendekatan pembelajaran aktif (active learning). Pembelajaran aktif adalah berbagai bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru dalam proses pembelajaran tersebut. Pembelajaran aktif dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh siswa, sehingga semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian siswa berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir.[13]
Kondisi tersebut merupakan kondisi umum yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan, terutama disebabkan siswa di ruang kelas ketika proses pembelajaran berlangsung lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual, sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Konfucius dikemukakan kembali oleh Silberman sebagai berikut:
”yang saya dengar, saya lupa,
yang saya lihat, saya ingat,
yang saya lakukan, saya paham”.[14]
Ketiga pernyataan itu menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa yang dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran, yaitu tidak tuntasnya penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran.
Mel Silberman memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan paham belajar aktif (active learning), yaitu:
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.
Yang saya dengar, lihat dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai pahami.
Dari yang saya dengar, lihat, bahas dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan.
Yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai.[15]
Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara siswa hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya (setengah dari yang dikemukakan guru), karena siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir.[16]
Kerja otak manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu pengucapan. Otak manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang masuk ke dalamnya, dan otak juga memproses setiap informasi yang ia terima, sehingga perhatian tidak dapat tertuju pada stimulus secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan tidak semua yang dipelajari apalagi didengarkan saja dapat diingat dengan baik.
Penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan sampai 171% dari ingatan semula. Dengan penambahan visual di samping auditori dalam pembelajaran, kesan yang masuk dalam diri siswa semakin kuat sehingga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal ini disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa saling menguatkan; apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual) dan apa yang dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran). Dalam arti kata pada pembelajaran seperti ini sudah diikuti oleh reinforcement yang sangat membantu bagi pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.[17]
Menurut Bonwell pembelajaran aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1)        Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh guru melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
2)        Siswa tidak hanya mendengarkan pelajaran secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi.
3)        Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi.
4)        Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi.
5)        Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.[18]

Berdasarkan hal tersebut jelas terlihat bahwa metode GNT adalah metode pembelajaran yang meski dalam pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan dari metode ceramah,[19] namun metode ini cocok digunakan untuk memulai pembelajaran dan menghadirkan suasana belajar yang aktif sehingga siswa akan terfokus perhatiannya pada istilah dan konsep yang akan dikembangkan dan materi yang berhubungan dengan kompetensi serta tujuan yang telah dirancang. Metode ini juga dapat meminimalisasi kelemahan-kelemahan dari metode ceramah, yakni sebuah metode yang hanya mengandalkan indera pendengaran sebagai alat belajar yang dominan.
e.         Penerapan Metode GNT dalam Pembelajaran
Beberapa model yang sering digunakan dalam metode ini, mulai yang sederhana sampai yang bersifat kompleks, dan sangat tergantung kepada kemampuan siswa, atas dasar jenjang pendidikannya. Semakin tinggi jenjang pendidikannya maka akan semakin kompleks penyajiannya. Siswa tingkat dasar, atau yang mula-mula diberikan dengan cara ini, maka biasanya diberikan penyajian yang bersifat sederhana, dengan cara:
1)        Memberi bahan ajar misalnya berupa handout kepada siswa
2)        Materi ajar disampaikan dengan metode ceramah.
3)        Mengosongi sebagian poin-poin yang penting sehingga terdapat bagian-bagian yang kosong dalam handout tersebut. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengosongkan istilah atau definisi atau bisa dengan cara menghilangkan beberapa kata kunci.
4)        Menjelaskan kepada siswa bahwa bagian yang kosong dalam handout tersebut memang sengaja dibuat agar mereka tetap berkonsentrasi mengikuti pembelajaran.
5)        Selama ceramah berlangsung siswa diminta untuk mengisi bagian-bagian yang kosong tersebut.
6)        Setelah penyampaian materi dengan metode ceramah selesai, guru meminta siswa untuk membacakan handoutnya.
Menurut Melvin L. Silberman ada beberapa variasi lain dalam metode GNT di antaranya ialah, Guru menyiapkan lembar kerja yang memuat sub-sub topik utama dari materi yang akan diajarkan.[20]




[1]John M. Echols & Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2003), h. 283.
[2]Ibid. h. 577.
[3]Hisyam Zaini dkk, Metode Pembelajaran Aktif (Yogjakarta: CTSD, 2008), h. 32.
[4]Melvin L. Silberman, Active Learning:101 Cara Belajar Siswa Aktif, cet. VIII. terj. Raisul Muttaqien, (Bandung: Nusa Cendikia, 2009), h. 19. dan h. 115.
[5]Dirto Hadisusanto dan Maman Achdiat, Metode Ceramah (Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G) Depdikbud, 1987), h. 2.
[6]Suryono, dkk, Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1992), h. 99.
[7]Ibid., h. 101.
[8]Silberman, Active Learning, h. 46.
[9]Ibid., h. 110.
[11]Yuli Kwartolo, ”Sembilan Peristiwa Belajar Gagne” dalam Tabloid Penabur, No. 25 Tahun VII Maret 2009, h. 9.
[12]Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Prenada Media Group, 2005), h. 34.
[13]Kwartolo, ”Sembilan”, h. 10.
[14]Silberman,  Active Learning, h. 23.
[15]Ibid., h. 23.
[16]Kwartolo, ”Sembilan”, h. 10.
[17]Ibid.
[18]Zaldi Sukadi, Metode Pembelajaran Aktif: Teori dan Praktik (Semarang: Insan Mulia, 2001), h. 75.
[19]Ibid.
[20]Silberman, Acticve Learning, 124.