Diberdayakan oleh Blogger.

Pengertian Belajar dalam Islam



 Belajar
a.        Pengertian Belajar
Sebagai landasan penguraian apa yang dimaksud dengan belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi belajar di antaranya menurut Slameto yang menyatakan bahwa balajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi lingkungannya.[1]
Moh Uzer Usman manyatakan bahwa belajar adalah sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya.[2]
Sedangkan menurut Ernest R. Hilgar sebagaimana dikemukakan oleh Toto bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui latihan, perubahan itu disebabkan karena adanya dukungan dari lingkungan yang positif yang menyebabkan terjadinya interaksi edukatif.[3]
Berdasarkan pendapat para ahli tentang belajar dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah perubahan berarti pada seseorang yang telah mengalami proses belajar, akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan. Kriteria keberhasilan dalam belajar di antaranya ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar.
Berhubungan dengan belajar, sebagaimana terdapat dalam surah al-Taubah ayat 122:
$tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râÉYãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâxøts ÇÊËËÈ  
Aratinya:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.[4]

Berdasarkan ayat di atas, Allah swt. melarang mereka pergi ke medan perang, adanya perintah agar sebagian manusia pergi memperdalam ilmu pengetahuannya dan menyebarluaskan wilayahnya, dengan maksud supaya terjadi proses pembelajaran sesudah dia kembali ke masyarakat.[5]
Rasullullah saw. bersabda dalam hadisnya:
عَنْ اَنَسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ, وَ اِنَّ طَالِبَ العِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْ حَتَّى الْحِيْتَانَ فِي الْبَحْرِ (رواه ابن عبد البر)
Artinya:
Dari Anas ra. berkata Rasulullah saw. bersabda: menuntut ilmu itu wajib atas setiap orang Islam, karena sesungguhnya semua makhluk sampai binatang-binatang yang ada di laut memohonkan ampun untuk orang yang menuntut ilmu (HR. Ibnu Abdul Bar).[6]

Berdasarkan hadis di atas besar pahalanya mencari ilmu pengetahuan dan mencari ilmu pengetahuan wajib atas tiap-tiap muslim, sehingga ikan-ikan di lautan turut mendoakannya, meminta ampun kepada Allah swt. untuknya dan tidak itu juga seluruh isi dunia memohon ampun kepadanya. Alangkah mulianya orang yang mencari ilmu pengetahuan.
Rasulullah saw. juga menjelaskan bahwa Allah swt. akan memudahkan jalan orang yang menuntut ilmu, seperti hadis Nabi saw. sebagai berikut:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ-وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى، قَالَ يَحْيَى: أَخْبَرَنَا وقَالَ الْآخَرَانِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِح عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ،
Artinya:
Yahya bin Yahya At-Tamimi, Abu Bakr bin Abu Syaibah, dan Muhammad ibnul 'Ala` Al-Hamdani telah menceritakan kepada kami. Dan lafazh ini milik Yahya. Yahya berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Dua yang lain berkata: Abu Mu'awiyah mengabarkan kepada kami, dari Al-A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,’Barangsiapa yang melepaskan dari orang mu`min satu kesusahan dari berbagai kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan darinya kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa memberi kemudahan bagi orang yang kesulitan, maka Allah akan mudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Dan barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah satu kaum pun yang berkumpul di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca dan saling mempelajari Kitab Allah di antara mereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada para malaikat di sisi-Nya. Barangsiapa amalnya memperlambatnya, nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya (HR. Muslim)[7]




[1]Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),  h. 2.
[2]Moh Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2013), h. 5.
[3]Toto Rumimat, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Depatemen Agama RI, 2009), h. 54.
[4]Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya (Bandung: Jumanatul ‘Ali-Art, 2004), h. 206.
[5]M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasihan Alquran, (Jakarta: Lentera Hati, 2009), cet. I. Vol.V,  h. 290.
[6]Imâm Jalâluddîn bin Abû Bakr as-Suyûthî, al-Jâmi‘us Shagîr Fî Ahâdîsi Al-Basyîri An-Nadzîr (Beirut: Lebanon, Dâr Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2004), jilid II, h. 325.
[7]Imām Abi Al-Husāin Muslim Bin al-Hajj, Shahih Muslim (Riyad Arab Saudi: Dar ‘Alimu al Kutub,1996), No. 2699.  jilid IV. h. 2074.

Tidak ada komentar