Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2020

PERKAWINAN IDEAL DAN KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN

SUHENDRA


A.   Perkawinan adalah Fitrah Manusia

Syariat Islam menolah keras praktek ruhbaniyyah (kerahiban, tiidak menikah) karena hal itu bertentangan dengan fitrah manusia, dan kontradiktif dengan kecenderungan, Hasrat, dan insting-instingnya.

Dari Saad bin Abi Waqqash ra., Nabi saw. Bersabda,

اِنَّ اللهَ أَبْدَلَنَا بِالرُّهْبَانِيَّةِ الحَنِيْفِيَّةِ السَّمْحَةِ
 Sungguh, Allah telah mengganti kerahiban dengan hanifiyyah samhah (sikap lurus yang toleran). (HR. al-Baihaqi)

Rasulullah saw. Juga bersabda,
Barangsiapa yang telah dimudahkan Allah untuk menikah, namun ia juga tidak menikah, maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Ath-Tabrani dan al-Baihaqi)

Perhatikan hadis-hadis tersebut, terlihat bahwa syariat Islam melarang seoran Muslim untuk tidak menikah. Untuk hidup zuhud dengan niat ruhbaniyah, meyepi dari dunia dengan niat hanya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Lebih lagi ia mampu menikah dan telah memenuhi semua syarat untuk menikah.

Jika kita renungkan sikap Rasulullah saw. Dalam memelihara masyarakat dan melakukan terapi mentas atas mereka, maka kita akan semakain yakin bahwa pemeliharaan dan terapi tersebut adalah berdasarkan kesadaran beliau mengenai hakikat manusia dan pemenuhan tuntutan keinginan dan kecenderungan. Sehingga setiap anggota masyarakat tidak akan melanggar batas-batas fitrahnya dan tidak akan mengerjakan sesuati yang berada diluar kemampuannya. Mereka tidak akan terjatuh di saat orang lain berjalan, tidak mundur di saat orang lain maju, tidak lemah di saat orang lain memiliki kehidupan yang kuat.

Allah Ta’ala berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (ar-Rum: 30)

Berikut ini adalah sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Beliau telah menyiapkan sikap-sikap konstruksif dan edukatif untuk melakukan terapi terhadap berbagai perilaku abnormal dan dalam memenuhi hakikat manusia.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas ra.,
“Suatu hari datang tiga orang ke rumah salah seorang istri Nabi saw. Untuk tanya mengenai ibadah beliau, setelah mendapatkan informasi itu mereka pun merasa ibadah mereka selama ini tidak ada apa-apanya (sangat sedikit) dibanding Nabi saw. Lalu mereka berkata: “Apalah kami ini dibandingkan dengan Nabi saw., padahal beliau telah diampuni seluruh dosanya, baik yang telah lalu maupun yang datang.” Lalu salah seorang dari mereka berkata, “jika demikian, aku akan shalat malam selamanya.” Yang lain berkata,” Aku akan puasa sepanjang masa.” Yang lain berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah untuk selamanya,” ketika Rasulullah saw tiba, beliau pun bersabda,

Mengapa kalian berkata seperti itu? Demi Allah, aku yang paling takut kepada Allah ketimbang kalian, dan lebih takwa kepada-Nya daripada kalian. Namun aku puasa dan berbuka. Aku shalat dan tidur. Aku juga menikahi wanita. Siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”

Hadis ini menerangkan bahwa perkawinan menurut Islam adalah fitrah manusia, agar manusia dapat mengemban amanah tanggung jawab yang besar pada dirinya, berupa pendidikan dan pembinaan. Saat fitrah memanggil, keinginan dari insting-insting ini akan merespon, dan berjalanlah hukum alam pada kehidupan ini. Jadi pernikahan merupakan cara yang tepat dalam menjalankan kehidupan di dunia.

B.   Perkawinan adalah kepentingan Sosial

Telah diketahui bahwa perkawinan menurut islam memiliki manfaat dan kepentingan sosial. Dengan taufiq Allah, disini akan dipaparkan urgensinya, lalu menjelaskan kaitannya dengan pendidikan.

1.    Menjaga Kelestarian Spesies Manusia

Melalui perkawinan, spesies manusia akan terjaga kelestariannya, makin bertambah banyak dan terus berlanjut keturunannya hingga hari kiamat tiba. Jadi, ada upaya untuk memelihara kelestarian dan kesinambungan hidup manusia. Ini juga memotivasi para ahli untuk merancang metode pendidikan dan dasar-dasar yang benar guna menyelamatkan manusia, baik dari aspek moralitas maupun fisik.

Allah swt, menerangkan hikmah sosial dan kebaikan humanis ini dalam firman-Nya,
وَاللهُ جَعَلَ لَكُم مِنْ أَنفُسِكُمْ أزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِنْ أَزْوَاجِكُم بَنِيْنَ وَحَفَدَةً
“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu.” (an-Nahl: 72)
Allah Ta’ala juga berfirman,

يَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَء

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (an-Nisaa’: 1)

2.    Melestarikan Garis Keturunan

Dengan diisyaratkannya perkawinan oleh Islam, anak-anak dapat berbesar hati dengan penasaban (penyadaran garis keturunan) mereka kepada bapak mereka. Sandaran nasab ini akan memberikan harga diri, stabilitas jiwa, dan kemuliaan pada mereka. Tanpa perkawinan, niscaya akan bermunculan anak-anakk yang tidak memiliki harga diri dan sandaran nasab. Keadaan ini merupakan tikaman bagi moralitas yang luhur, karena dapat menyebarkan kerusakan dan sikap permisif yang berlebihan.

3.    Menyelamatkan masyarakat dari penyimpangan akhlak

Dengan adanya perkawinan, masyarakat akan terlepas dari penyimpangan akhlak. Para anggota masyarakat akan terhindar dari kekacauan sosial. Bilamana isnting kecenderungan kepada lain jenis ini dapat terpuaskan dengan perkawinan resmi dan hubungan yang halal, maka masyarakat akan merasakan manisnya tata krama yang tinggi dan akhlak yang luhur, baik secara individu maupun kolektif. Mereka akan mampu mengemban risalah dan memikul tanggung jawab sesuai degan cara yang diinginkan Allah.

Sangat tepat sabda Rasulullah saw, saat memperlihatkan hikmah perkawinan dan fungsi sosialnya dengan jalan menghimbau generasi muda untuk menikah.
“Wahai para pemuda, siap saja diantara kalian yang telah mampu kawin, maka kawinlah, karena perkawinan dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Namun, bagi yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu sebagai penangkal (hawa nafsu).: (HR. Jamaah)

4.    Menyelamatkan masyarakat dari berbagai penyakit

Dengan perkawinan, masyarakat dapat terhindar dari berbagai penyakit menular mematikan, yang menyebar dikalangan anak-anak akibat perzinahan, tersebarya pornografi, dan hubungan seks ilegal. Di antara penyakit menular ini adalah: sifilis, gonorhea dan lain-lain, dan lain-lain penyakit berbahaya yang dapat memutus keturunan, melemahkan tubuh, menyebarkan wabah penyakit, dan merusak kesehatan anak.

5.    Menenagkan jiwa

Dengan perkawinan, akan tumbuh rasa cinta dan kasih sayang, serta kemesraan antara suami isteri. Saat seorang suami di waktu petang terlepas dari kesibukan mencari nafkah, ia segera kembali ke rumahnya dan berkumpul bersama isteri dan anak-anaknya. Saat itu, ia akan melupakan semua kekesalan di siang hari dan sirnalah semua keletihan saat ia bekerja dan berjuang hidup. Demikian pula dengan seorang isteri yang berkumpul bersama suaminya, bertemu dengan teman hidupnya di malam hari.

Demikianlah, mereka semua memperoleh ketenangan jiwa di bawah ayoman satu sama lain melalui lembaga perkawinan. Allah Ta’ala dengan tepat menggambarkan fenomena ini dengan penjelasan yang sangat mengena dan indah:

وَمِنْ اَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوْا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً اِنَّ فِي ذَلِكَ لَاَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuku isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (ar-Ruum: 21)

6.    Kerja sama suami isteri untuk membina rumah tangga dan mendidik anak

Dalam perkawinan akan terjadi jalinan kerja sama di anatara suami isteri untuk membina rumah tangga dan mengemban tanggungjawab. Mereka salling menyempurnakan tugas. Wanita bekerja pada bidangnya sesuai dengan kodrat kewanitaannya, yaitu mengurus rumah dan mendidik anak. Seperti kata seorang penyair:

Ibu adalah sekolah pertama,
Bila engkau persiapkan,
Maka berarti engkau telah siapkan
Sebuah pohon yan baik akarnya.

Sedangkan seorang pria berkerja pada bidangnya sesuai kodrat kelelakiannya, yaitu bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat, serta melindungi keluarganya dari berbagai bahaya dan musibah di setiap saat. Dengan demikian, dapat terlaksana jalinan kerja sama antara suami isteri yang akan memberikan hasil-hasil positif dalam mempersiapkan anak-anak yang saleh, dan mendidik generasi mukmin yang di hatinya berkibar iman yang kokoh, dan pada jiwanya tertanam ruh Islam. Sehingga seluruh anggota keluarga dalam segala kondisi akan merasa tenang dan nikmat di bawah naungan cinta kasih, kedamaian dan ketenteraman.

7.    Menyalakan rasa kebapakan dan keibuan

Dengan perkawinan, akan tumbuh dan menyala kasih sayang di hati kedua orang tua. Ii akan menimbulkan perasaan dan perilkau yang mulia, yang berdampak positif dalam merawat anak-anak mereka dan kemaslahatan mereka, serta bangkit bersama mereka meraih kehidupan yang layak dan tenteram, menyambut masa depan yang baik dan berseri.

Demikianlah berbagai kepentingan sosial yang timbul karena adanya perkawinan. Dari sini kita dapat melihat adanya ikatan kuat antara kepentingan-kepentingan ini dengan kesuksesan pendidikan anak, kebahagiaan rumah tangga, dan perumbuhan generasi. Betapa mengagumkannya syariat Islam yang memerintahkan perkawinan, memotivasi, dan menganjurkannya. Benarlah sabda Rasulillah saw.,

“Tak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang mukmin setelah takwa kepada Allah, yang lebih baik dari isteri yang salihah. Jika suami memerintahnya maka ia taat; apabila suami memandangnya, maka ia menyenangkan; bila suami memberinya bagian (giliran), ia patuh; dan jika ditinggal, ia akan menjaga diri dan harta suaminya.” (HR. Ibnu Majah)

Rasulullah saw, juga bersabda,
الدُّنيَا مَتَاعٌ, وَخَيْرٌ مَتَاعِهَا المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salihah. (HR. Muslim)

C. Perkawinan adalah Memilih

Islam dengan aturannya yang tinggi dan sistemnya yang universal telah menetapkan kaidah-kaidah dan hukum-hukum pada mereka yang melamar dan yang dilamar. Jika semua petunjuk itu dilaksanakan dan dijalankan, niscaya di dalam perkawinan akan terjadi saling memahami, rasa cinta, dan keharmonisan. Seluruh anggota keluarga pun akan berada pada mahkota iman yang kokoh, tubuh yang sehat, akhlak yang luhur, intelektual yang matang, dan jiwa yang tenang dan suci.

Berikut ini beberapa kaidah dan hukum tersebut.

1.    Memilih atas Dasar Agama

Maksudnya adalah pemahaman yang benar terhadap Islam, menjalankan seluruh ajarannya yang mulia dan tata kramanya yang tinggi dalam aplikasi praktis perilaku. Selain itu, juga berarti komintmen yang sempurna kepada sistem syariat dan prinsip-prinsipnya yang kekal sepanjang masa.

Saat seorang pelamat atau yang dilamar telah berada pada tingkat pemahaman, aplikasi, dan komitmen ini, maka ia dapat dikatakan beragama dan berakhlak. Sebaliknya, apabila salah satu dari mereka tidak mencapai tingkat ini, baik pemahaman, aplikasi, dan komitmennya, maka dapat disebut sebagai orang yang berperilaku buruk, rusak akhlaknya, dan jauh dari Islam, meskipun ia nampak di hadapan orang lain sebagai orang yang baik dan takwa, dan mengaku dirinya seorang muslim yang taat.

Khalifah Umar bin Khathab ra, pernah melakukan suatu tindakan yang amat tepat saat memberi standar yang benar untuk mengenali pribadi seseorang dan menyingkap hakikat seseorang. Saat itu datang seorang pria yang memberi kesaksian bagi orang lain.
Umar bertanya kepadanya,”Apakah engkau mengenal orang ini?”
Ia menjawab,”Ya!”
Umar bertanya, “Apakah engkau bertetangga dengannya, dan mengetahui saat ia keluar masuk rumahnya?”
Ia menjawab, “Tidak!”
Umar bertanya lagi,”Apakah engkau pernah menemaninya dalam suatu perjalanan (safar) dan mengenal kemulian akhlaknya?”
Ia menjawab, “Tidak!”
Umar bertanya lagi, “Apakah engkau pernah bermuamalah dengannya dengan melibatkan dinar dan dirham (berdagang), sehingga kamu mengenal kehati-hatiannya?
Ia menjawab “Tidak!”
Lalu Umar berkata keras,”Mungkin engkau pernah melihatnya berdiri dan duduk shalat di masjid, mengangkat dan menundukkan kepalanya?”
Ia menjawab, “Ya!”
Akhirnya Umar berkata, “Pergilah, sungguh engkau tidak mengenalnya!”

Umar ra, tidak tertipu oleh postur dan penampilan seseorang, namun ia mengetahui hakikat dengan patokan yang benar yang dapat menyingkap keadaan yang sebenarnya dan menunjukkan agama dan akhlaknya. Inilah penjabaran dari sabda Rasulullah saw.,

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَجْسَادِكُمْ وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sungguh Allah tidak memandang penampilan dan fisik kalian, namun Allah hanya melihat hati dan perbuatan kalian. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, Rasulullah saw menganjurkan kepada siapa saja yang ingin menikah agar mengutamakan wanita yang beragama.

2.    Memilih atas dasar keturunan dan kemuliaan

Pilihlah jodoh yang berasal dari keluarga yang telah dikenal kebaikan dan akhlaknya, keturunan dan asal-usulnya yang terhormat

Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni, al-Askari dan Ibnu Adi dari Abu Said al-Khudhri secara marfu’
“hati-hatilah kalian terhadap Khudhra’ ad-Diman (tumbuhan hijau yang tumbuh di atas kotoran hewan).”
Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan khudhra’ ad-diman itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Perempuan yang amat cantik tapi tumbuh dewasa di tempat yang buruk.”

3.    Mengutamakan orang yang jauh

Ini demi kebaikan si anak keturunannya, agar mereka terhindar dari berbagai penyakit menulai dan penyakit genetis. Selain itu, juga untuk memperluas cakrawala pergaulan antar keluarga, dan memperluas ikatan sosial masyarakat.

Diantara peringatan Rasulullah saw tentang hal ini adalah sabda beliau.
“janganlah kalian menikahi wanita yang masih kerabat, karena akan melahirkan anak yang lemah dan bodoh”

4.    Mengutamakan gadis perawan

Di antara manfaat memilih gadis adalah menjaga keluarga dari hal-hal yang dapat menyusahkan kehidupannya, menjerumuskannya ke dalam lingkaran pertengkaran, dan mencegah merasuknya kabut permasalahan dan permusuhan.

Rasulullah saw menggambarkan secara singkat sebagian hikmah menikahi gadis perawan, Beliau bersabda,
“Menikahlah dengan gadis, karena mereka lebih segar mulutnya, paling besar cintanya paling sedikit dustanya, dan rela dengan kesederhanaan.” (HR. Ibnu Majah dan al Baihaqi)

5.    Mengutamakan wanita yang subur

Ini agar kita dapat mencapai tujuan perkawinan, yaitu mendapatkan keturunan, menjaga keberlangsungan jenis manusia, dan menghuni bumi. Kesuburan itu dapat diketahui dari dua hal:

1)    Tidak memiliki penyakit fisik yang dapat mengganggu dan menghalangi kehamilan. Untuk mengetahuinya dibutuhkan bantuan para ahli.

2)    Melihat kondisi ibunya dan saudara-saudara wanitanya yang telah menikah. Jika mereka semua subur, biasanya ia pun seperti itu.

Nabi saw menganjurkan untuk tidak menikahi wanita yang mandul meskipun sangat cantik. Abu Dawud dan an-Nasa’i meriwayatkan bahwa Maqil bin Yasar mengatakan bahwa seseorang menemui Nabi saw dan berkata pada beliau,”Wahai Rasulullah aku ingin menikahhi wanita yang memiliki keturunan yang baik, punya kedudukan dan harta, namun ia mandul. Apa boleh aku menikahinya?” Lalu beliau pun melarangnya. Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya dan berkata yang sama kepada beliau. 

Dan akhirnya pada kedatangan yang ketiga, Rasulullah saw pun bersabda,

“Kawinilah wanita yang waluud (subur rahimnya) dan pecinta, karena aku kelak berbanyak-banyakan kepada umat-umat lain dengan kalian” (HR. Abu Daud, an-Nasa’i dan al-Hakim)

Oleh karena itu, pendidikan anak dalam Islam harus dimulai dengan langkah pertamanya, yakni dengan perkawinan ideal yang dibangun di atas prinsip-prinsip yang kuat, yang akan membawa pengaruh tetap bagi pendidikan, pembentukan dan pembinaan generasi. Dengan demikian sangat erat dan berpengaruh besar perkawinan dengan pendidikan.