Senin, 13 Juli 2015

Cara Mudik Islami

SUHENDRA


Masa mudik telah tiba. Banyak yang bersiap-siap hendak mudik ke kampung halaman. Moga catatan  ini dapat menambah “bekal” untuk mudik;
• Persiapkan bekal mental sebagaimana kita mempersiapkan bekal materi. Karena mudik biasanya membutuhkan persiapan ekstra dan menempuh perjalanan panjang, sedangkan safar, sebagaimana sabda Rasulullah saw, adalah ‘Sebagian dari azab.’ Keletihan dan berbagai problema sebelum, selama dan sesudah perjalanan, pastinya tidak terhindarkan.
• Usahakan menyertakan keluarga jika memungkinkan. Hal tersebut akan semakin menghangatkan hubungan keluarga disamping dapat menjadi pendamping yang dapat memberikan bantuan dalam safar. Rasulullah saw selalu mengajak salah seorang isterinya, bahkan kadang lebih dari satu isterinya, dalam setiap perjalanan. Atau upayakan jangan safar seorang diri, tapi ada teman pendamping yang dapat saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan. Setan lebih dekat kepada orang yang sendiri, semakin banyak orangnya, setannya semakin menjauh.
• Para wanita secara khusus hendaknya melakukan safar dengan di dampingi mahramnya, sebagaimana pesan Rasulullah saw dalam masalah ini.
• Perdebatan wajib tidaknya mahram di antara para ulama, semestinya tidak membuat seseorang menganggap remeh masalah tersebut. Kecuali jika ada kondisi khusus dalam masalah ini.
• Selesaikan urusan-urusan pribadi yang berkaitan dengan orang lain, jika memungkinkan. Seperti mengembalikan barang titipan, melunasi utang, memenuhi janji-janji, dll. Kalaupun tidak mungkin, sedapatnya meminta maaf dan minta izin kepada orang yang bersangkutan, sambil mempertegas kewajiban-kewajiban yang belum tertunaikan. Rasulullah saw, ketika hendak berangkat hijrah, tidak hanya menugaskan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya dengan tujuan mengelabui kaumkafir Quraisy yang hendak membunuhnya, tapi beliau juga menugaskannya untuk mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepadanya dari masyarakat Mekah.
• Jika ada tanggung jawab terkait dengan tugas pekerjaan atau kedudukan, hendaknya jangan pergi sebelum tugasnya tersebut dilimpahkan dengan jelas kepada orang lain. Banyak kesulitan yang didapati orang-orang yang membutuhkan karena pelimpahan tugas yang tidak jelas. Juga termasuk kebiasaan Rasulullah saw, setiap kali akan pergi ke luar kota Madiah, beliau melimpahkan tugas kepemimpinankepada salah seorang shahabatnya untuk menunaikan tugas-tugas di Madinah.
• Beritahu orang-orang terdekat tentang rencana safar tersebut seraya meminta doa keselamatan atau saling mendoakan serta menyampaikan harapan-harapan serta keinginan-keinginan. Di samping secara sosial hal tersebut akan menambah kedekatan dan kehangatan hubungan sosial kita, dibanding misalnya jika seseorang melakukan safar begitu saja tanpa pesan.
• Jangan lupa persiapkan oleh-oleh yang layak diberikan kepada kerabat. Tidak harus mahal, tapi cukup sebagai untaian kasih sayang dan persaudaraan. “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai….” Begitu sabda Rasulullah saw.
• Perhatikan dan praktekkan zikir-zikir dan doa yang terkait dengan safar, seperti ucapan yg dibaca kepada orang yang ditinggalkan, doa naik kendaraan, doa safar, doa ketika singgah, dll.
Secara umum disunahakan memperbanyak doa, karena saat safar termasuk waktu yang mustajabah (terkabulnya doa).
• Lebih utama jika safar dimulai pada pagi hari, karena Rasulullah saw biasanya apabila mengirim pasukan, beliau melepasnya pada pagi hari. Di samping waktu pagi adalah waktu yang didoakan Rasulullah saw mendapatkan keberkahan. Namun hal ini bukan berarti selain waktu tersebut akan mendatangkan kesialan apabila kita melakukan safar. Justeru keyakinan seperti ini (adanya waktu-waktu sial untuk memulai safar) adalah keyakinan keliru dan menjurus kepada kesyirikan.
Termasuk keyakinan syirik apabila seseorang mengurungkan safarnya karena tanda-tanda yang dia yakini mendatangkan kesialan, seperti jika melihat burung terbang ke kiri dan semacamnya, hal ini dikenal dengan istilah tathayyur.
• Perhatikan pula ketentuan ibadah dalam safar, khususnya terkait keringanan (rukhshah) shalat dalam safar. Seperti kapan mulai shalat qashar jamak, bagaimana caranya dan beberapa kasus yang terjadi. Intinya, shalat tidak boleh ditinggalkan dalam safar, namun di sana ada keringanan yang diberikan syariat.
• Setibanya di kampung halaman, kalau memungkinkan disunnahkan shalat dua rakaat sebelum tiba di rumah. Dapat dicari masjid terdekat. Sebagaimana halnya Rasulullah saw biasa melakukannya.
• Shalat sunah dua rakaat sebelum tiba di rumah, dipahami oleh para ulama sebagai pemberiantahu akan kedatangan. Jangan sampai seseoran pulang ke kampungnya halamannya, tidak ada seorang pun yang diberitahu sebelumnya, ‘ujuj-ujug’ tahu-tahu sudah ada di depan pintu. Hal ini tentu tidak layak.
• Upayakan sedapat mungkin mengunjungi kerabat; Terutama orang tua, para saudara, paman atau bibi, kakek dan kerabat jauh. Inilah yang paling tepat dikatakan silaturrahim, yaitu menyambung hubungan kepada orang-orang yang memiliki kekerabatan dan pertalian darah. Semakin dekat kekerabatannya, semakin kuat tuntutan silaturhim kepadanya. Jangan sampai sudah ke rumah sahabat dan berjalan-jalan ke sana-sini, sebelum kita mendatangi para kerabat. Apalagi jika lokasinya dekat dan mudah dijangkau. Bahkan jika kerabat tersebut terkesan memutuskan hubungan, justeru nilai silaturrahim yang hakiki, sebagaimana sabda Rasulullah saw, adalah manakala kita berusaha menyambung hubungan sementara kerabat kita berusaha memutuskannya.
• Jika orang tua sudah meninggal, jangan lupa berziarah ke kuburnya, mendoakan dan memohonkan ampunan untuknya. Selebihnya termasuk bagian birrulwalidain kepada orang tua yang sudah meninggal, hendaknya kita mengunjungi orang yang dekat dengan orang tua kita semasa hidupnya, sebagaimana hal tersebut Rasulullah saw katakan.
• Hindari sikap, perkataan dan penampilan yang memberi kesan bahwa kita memiliki kelebihan di hadapan kerabat, apalagi tindakan yang nyata-nyata menunjukkan kesombongan, baik dalam urusan dunia maupun agama. Kedepankan sikap ramah, tawadu, merasa perlu dengan raut muka berseri dan penuh perhatian. Hindari sejauh-jauhnya tindakan yang memberi kesan meremehkan atau yang dapat mengundang ketersinggungan.
• Jangan lupa tetap dalam aktifitas ibadah dan dakwah di kampung halaman. Agar masa liburan kita tidak melulu berisi dengan kegiatan senang-senang dan hura-hura, tapi juga bernilai ibadah dan dakwah.
Beberapa Zikir dan Doa terkait;
Ucapkan kepada orang yang anda tinggalkan;
« أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهُ الَّذِي لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ »
“Aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan barang yang dititipkan” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Doa yang dibaca orang yang ditinggal kepada musafir :
« أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ »
“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan akhir perbuatanmu” (HR. Ahmad dan Tirmizi)
Doa ketika memulai perjalanan, berdoalah:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ اْلعَمَـلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، الَّلهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيْفَةُ فِي الأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُـوْذُ بِكَ مِنْ وَعَثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْل
ِ
“Allah Maha Besar 3x, Maha suci Tuhan Yang mengusahakan kami untuk mengendarai ini. Sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan (dihari kia-mat). Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meredhokanmu. Ya Allah, permudahlah perja-lanan kami ini, dan jadikanlah perjalanan yang jauh seolah-olah dekat. Ya Allah, Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan harta dan keluarga yang jelek”.
Apabila kembali, doa di atas dibaca lagi dan ditambah:
آيِبُوْنَ، تَائِبُوْنَ، عَابِدُوْنَ، لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
“Kami kembali dengan bertobat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Tuhan Kami“
Doa ketika singgah di sebuah tempat
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التاَّمَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna dari keburukan apa yang Dia ciptakan“ (HR. Muslim)
Doa ketika singgah di sebuah negeri/kota
« اللَّـهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَاْلأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنِ وَمَا أَضْلَلْنَ وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ ، أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا »
“Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya, Tuhan penguasa tujuh bumi dan apa yang ada diatasnya, Tuhan yang menguasai syetan-syetan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhan yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya. Aku mohon kepada-Mu kebaikan desa ini, keluarga dan apa yang ada didalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan desa, penduduk dan apa yang ada di dalamnya”

Sabtu, 04 Juli 2015

HIKMAH ULANG TAHUN

SUHENDRA

Menelusuri kembali blog muhasabah milad saya yang ke 22 pada postingan ini, membuat saya berfikir akan mementuk perubahan yang saya capai selama setahun ini. Terngiang jelas wejangan Imam Al Ghazali tentang makna waktu bahwa “Yang terjauh dari diri seorang manusia adalah MASA LALUnya”.
Hari ini, persis sehari setelah milad ke 22 tahun hitungan dunia keberadaan saya di dunia fana dan semu ini. 1 tahun berkurang jatah hidup dan 1 tahun bertambah hitungan mundur sisa hidup saya.
Tulisan ini ada diiringi lagu Opick berjudul “Bila waktu telah berakhir” kira-kira syairnya spt ini;
Bila waktu telah berakhir, teman sejati tinggallah amal. Bila waktu telah terhenti teman sejati tinggallah sepi.
Kemudian terngiang di fikiran saya akan nasihat Iman Al Ghazali yang lain bahwa “Yang terdekat dari seorang manusia adalah KEMATIANnya sendiri”.Betapa sebuah nasihat yang luar biasa bermakna, sangat menyentuh dan tentunya sarat dengan ilmu illahi yang sangat dalam untuk digali lebih lanjut. Sebuah perjalanan panjang yang akan saya hadapi nanti, anda juga akan menghadapinya. Pertanyaannya, Are you ready? Ready gak ready yaah musti ready-laah… ;)
Saya teringat kala seseorang  yang menderita asma, dia menyiapkan obat khusus asma yang dibawanya kemanapun dia pergi dan selalu ada di kantong atau tasnya. Obat itu dipergunakannya pada saat penyakit asmanya kambuh, anytime…anywhere…obat tsb harus selalu ada di dekat dirinya. dia saya selalu “menyiapkan” obat tersebut untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak di inginkan apabila penyakti asmanya kambuh yang tak kenal tempat dan waktu. Persiapan semakin matang dikala dia melakukan perjalanan jauh untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dinginkannya. Bahkan bukan hanya dirinya yang menyiapkan obat tersebut, seluruh keluarganyapun tak luput dari persiapan dan selalu memberi “warning” kepadanya agar siap sedia dgn obat tsb. Jadi “persiapan” akan kambuhnya penyakit asma tsb bersifat jama’ah karena kepedulian keluarga thd kesehatan dirinya.
Bagaimana sikap kita dengan KEMATIAN kita? Sebuah kondisi yang melebihi kondisi sakit penyakit asma atau bahkan penyakit yang paling parah sekalipun. Sudah seberapa besar persiapan kita untuk KEMATIAN kita? Sudah seberapa peduli keluarga kita untuk mengingatkan dan membantu mempersiapkan diri kita menghadapi KEMATIAN kita? Apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi sesuatu yang pasti tersebut. Tidak semua orang mengalami penyakit asma, namun tidak satupun orang yang akan luput dari KEMATIANNYA sendiri. Pintu gerbang menuju tempat yang abadi dan panjang untuk kita jalani. Nerakakah atau Surgakah tempat kembali kita nanti? Hanya 2 tempat itu yang akan jadi muara segala kegiatan kehidupan kita sekarang ini dan alangkah naifnya apabila seorang manusia hanya mempunyai satu tujuan muara kehidupannya, dunia.
Dunia tidak lebih sebagai tempat nongkrong yang tidak berguna yang berisi candaan dan gurauan semata. Allah swt mengingatkan kita akan hal itu dalam surat Al An’am:32.
Dan tidaklah Dunia ini selain permainan dan senda gurau belaka.
Yup! Canda dan gurau belaka KECUALI bagi orang-orang beriman yang mempergunakannya untuk mempersiapkan bekal dengan berbagai kegiatan ibadah, berbagi kebaikan, sedekah dan amal jariyah lainnya. Lalu coba korelasikan ayat di atas dengan ayat lain pada surat Ali Imran: 185 berikut ini:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Bila kita kembalikan pada arti mainstream sebuah milad atau ulang tahun, milad  biasa dirayakan dengan canda tawa, pesta meski kecil-kecilan, berbagi senyum dan bahkan berbagi do’a yang terkesan basa basi karena doa-doa yang dipanjatkan tidak menyebutkan nama Allah dalam pengharapannya. Dikatakan “Semoga panjang umur” dan bukan  “Semoga Allah memanjangkan umur kamu penuh keberkahan”…dikatakan “Semoga Sukses selalu” dan bukan “Semoga Allah memberikan kesuksesan kepada kamu”. Bukankah itu basa basi namanya?
Pantaskah kita merayakan hilangnya waktu? Sudikah kita merayakan  bertambahnya peluang mendekati kematian? Sudah seberapa siap dan urgentkah kita menanti berakhirnya waktu kita? Sebuah proses tentunya  melebihi sakitnya asma yang kambuh. Are you ready?
Ya Allah, Rabb ku yang Maha Agung dan Maha Tingi…berkahilah sisa umurku ini, matikanlah aku dalam keadaan khusnul khatimah. Amien

Jumat, 05 Juni 2015

MAKALAH PERBUATAN TUHAN

SUHENDRA

BAB I
PENDAHULUAN
                        Dasar-dasar akidah islam telah dijelaskan Nabi Muhammad saw. melalui pewahyuan Al-qur’an dan kumpulan sabdanya untuk umat manusia generasi muslim awal binaan Rasullullah saw. telah meyakini dan menghayati akidah ini meski belum diformulasikan sebagai suatu ilmu lantaran lantaran rumusan tersebut belum diperlukan.
                        Pada periode selanjutnya, persoalan akidah secara ilmiah dirumuskan oleh sarjana muslim yang dikenal dengan dengan nama mutakallimun, hasil rumusan mutakallimun itu disebut kalam, secara harfiah disebut sabda Tuhan ilmu kalam berarti pembahasan tentang kalam Tuhan (Al-qur’an) jika kalam diartikan dengan kata manusia itu lantaran manusia sering bersilat lidah dan berdebat dengan kata-kata untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
                        Persoalan kalam lainnya yang menjadi bahan perdebatan diantara aliran-aliran kalam adalah masalah perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia. Masalah ini muncul sebagai buntut dari perdebatan ulama kalam mengenai iman.
Sehubungan dengan itu, ada beberapa masalah yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan Tuhan terhadap manusia yang menjadi bahan bahasan dan diskusi di kalangan mutakallimin. Dan yang terpenting diantaranya adalah lima poin masalah sebagai berikut; pertama, apakah Tuhan memiliki kewajiban terhadap manusia? Kedua, apakah Tuhan berkewajiban melakukan yang baik dan bahkan yang terbaik bagi kepentingan manusia? Ketiga, apakah layak Tuhan memberikan beban (taklif) diluar kemampuan manusia? Keempat, apakah pengiriman Rasul-Rasul adalah perkara yang wajib dilakukan Tuhan untuk kepentingan manusia? Dan kelima, apakah Tuhan berkewajiban menepati janji (wa’ad) dan menjalankan ancamannya (wa’id) terhadap manusia?
                        Dalam makalah ini akan dijelaskan perincian dari setiap masalah-masalah tersebut



BAB II
PEMBAHASAN
Sesungguhnya segala sesuatu yang wujud di alam raya ini selain wujudnya Allah adalah karena perbuatan (af’al) Allah dan pancaran dari keadilan-Nya yang sangat baik, paling sempurna, dan adil. Dia maha bijaksana dalam segala perbuatan-Nya, mahaadil dalam segala keputusan-Nya dengan keadilan yang tidak bisa diukur dengan keadilan hamba, karena keadilan seseorang hamba hanya bisa ditemukan unsur kezaliman, dengan menggunakan hak milik orang lain untuk kepentinan dirinya. Sementara itu tidak mungkin bisa di temukan suatu kezaliman bagi Allah, karena tidak mungkin akan berbenturan dengan kepentingan atau milik orang lain sehingga terjadi intervensi terhadap hak milik orang lain yang mengakibatkan tindakan zalim.
A.    PENGERTIAN PERBUATAN TUHAN
                        Perbuatan Allah ( افعال الله) ialah setiap kejadian yang berlaku di alam ini dengan kehendak dan iradah Allah SWT. Contohnya ialah kejadian siang dan malam, bencana alam, pasang surut lautan dan lain-lain adalah di bawah kekuasaan Allah. Firman Allah SWT:
ÏQr& (#ÿräsƒªB$# ZpygÏ9#uä z`ÏiB ÇÚöF{$# öNèd tbrçŽÅ³YムÇËÊÈ  

             “Adakah benda-benda dari bumi Yang mereka jadikan Tuhan-Tuhan itu, dapat menghidupkan semula sesuatu Yang mati?”
                        Berdasarkan ayat diatas, semua ciptaan Allah mempunyai hikmah dan rahasia yang tertentu. Orang yang menggunakan akal fikiran akan dapat mengungkap rahasia ciptaan Allah itu.
B.     MENGETAHUI PERBUATAN – PERBUATAN ALLAH SWT.
                        Pengetahuan tentang hal ini mencakup sepuluh prinsip dasar :
Prinsip dasar pertama : mengetahui segala yang ada di alam raya ini adlah perbuatan Allah, ciptaan dan kreasi-Nya. Tidak ada pencipta selain Dia. Dia yang mewujudkan dan menciptakan makhluk, Dia pula yang menciptakan kemampuan dan aktivitas mereka. Maka semua perbuatan hamba adalah ciptaan dan makhluk-Nya yang berkaitan dengan kekuasaan-Nya, sesuai dengan firman-Nya dalam Qs. Az-zumar : 62.
Prinsip dasar kedua : sesungguhnya kemandirian Allah swt dalam menciptakan gerakan-gerakan hamba adalah tidak berarti mengisolirnya dari kenyataan bahwa gerakan-gerakan tersebut “dikuasakan” kepada hamba dengan cara “berusaha” (ikhtisab), bahkan Allah swt menciptakan “kekuasaan” (qudrat) dan yang dikuasakan, menciptakan usaha dan yang diusahakan secara keseluruhan.
Prinsip dasar ketiga : bahwa perbuatan hamba, meskipun itu merupakan usaha (ikhtisab) yang dilakukan oleh hamba, namun itu tidak berarti keluar dari apa yang dikehendaki oleh Allah swt.tidak ada yang mampu menolak ketentuan-Nya, tidak ada yang berhak menuntut keputusan hukum-Nya, Dia berhak menyesatkan orang yang dikehendaki dan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki pula.
Prinsip dasar keempat : sesungguhnya ciptaan dan kreasi Allah swt terhadap makluk-Nya hanyalah semata karena kemuliaan-Nya. Pemberian tugas kepada hamba hanya semata karena anugrah-Nya.
Prinsip dasar kelima: Allah swt berhak membebani makhluk-Nya dengan beban yang di luar batas kemampuan mereka. Ini berbeda dengan pandangan mu’tazilah. Seandainya Dia tidak memiliki kewenangan untuk melakukan hal itu tentu mustahil Allah mengajari hamba-Nya agar meminta tidak dibebani di luar batas kemampuan mereka.
Prinsip dasar keenam : allah swt berhak mencela dan menyudutkan makhluk-Nya dengan tanpa da alasan dosa yang dilakukan sebelumnya dan pahala yang akan diberikan.
Prinsip dasar ketujuh : Allah swt berhak untuk berbuat apa saja terhadap hamba-Nya, maka Dia tidak wajib memperhatikan yang baik atau yang terbaik bagi hamba-Nya, sebab seperti yang telah disebutkan, tidak ada sesuatu yang wajib dilakukan oleh Allah. Bahkan tidak masuk akal kalau Dia dikenai kewajiban. (QS. AL-ANBIYA’ : 23).
Prinsip dasar kedelapan : bahwa kewajiban untuk mengetahui Allah swt dan menaati-Nya adalah wajib karena diwajibkan oleh Allah swt melalui syari’at-Nya bukan sekedar karena tuntutan akal.
Prinsip dasar kesembilan :Allah mengutus para Nabi as bukanlah sesuatu yang mustahil. Kebutuhan ummat manusia kepada para Nabi adalah seperti kebutuhan mereka kepada para dokter. Akan tetapi kebenaran seorang dokter diuji melalui ekperimen-ekperimen, sementara kebenaran seorang Nabi dibuktikan melalui mukjizat.
Prinsip dasar kesepuluh : Allah swt telah mengutus Muhammad saw sebagai penutup para nabi dan bertugas menyalin syari’at syari’at sebelumnya yaitu syari’at yahudi, nasrani, dan shabai. Allah swt memperkuat kenabian Muhammad saw dengan mukjizat yang jelas dan ayat-ayat yang terang.[1]
C. PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN ILMU KALAM TERHADAP PERBUATAN ALLAH
1.      Aliran Mu’tazilah
                        Aliran Mu’tazilah, sebuah aliran kalam yang bercorak rasional, mereka berpandangan bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak mampu melakukan perbuatan buruk.[2] Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan dari perbuatan buruk itu.
                        Di dalam Al-Quran pun jelas dikatakan bahwa Tuhan tidaklah zhalim. Ayat-ayat Al-Quran yang dijadikan dalil oleh Mu’tazilah untuk mendukung pendapatnya di atas adalah surat Al-Anbiya’ ayat 23 yang berbunyi:
“Ia tidak boleh ditanya tentang apa yang ia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya kelak”.
                        Dan surat Ar-Rum ayat 8 yang berbunyi:
“Patutkah mereka merasa cukup Dengan mengetahui Yang demikian sahaja, dan tidak memikirkan Dalam hati mereka, (supaya mereka dapat mengetahui), Bahawa Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta Segala Yang ada di antara keduanya itu melainkan Dengan ada gunanya Yang sebenar, dan Dengan ada masa penghujungnya Yang tertentu, (juga untuk kembali menemui Penciptanya)? dan sebenarnya banyak di antara manusia, orang-orang Yang sungguh ingkar akan pertemuan Dengan Tuhannya”.
            Berdasarkan ayat yang telah dikemukakan diatas, seorang tokoh Mu’tazilah yang bernama Qadi Abd Al-Jabar menyebutkan bahwa ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Tuhan hanya berbuat yang baik dan Mahasuci dari perbuatan buruk. Dengan demikian, Tuhan tidak perlu sitanya. Ia menambahkan kenyataannya bahwa seseorang yang dikenal baik, apabila secara nyata berbuat baik, tidak perlu ditanya mengapa ia melakukan perbuatan baik itu?. Manakala ayat yang kedua pula, menurut Al-Jabbar, mengandung petunjuk bahwa Tuhan tidak pernah dan tidak akan melakukan perbuatan buruk, pernyataan bahwa Ia menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan hak, tentulah tidak benar atau merupakan berita bohong.
            Selain itu kelompok Mu’tazilah juga berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban terhadap manusia. Kewajiban-kewajiban tersebut dapat disimpulkan dalam satu hal, yaitu kewajiban berbuat baik bagi manusia. Kelompok Mu’tazilah mengonsekuensikan tentang faham kewajiban Allah sebagai berikut:
a.      Kewajiban Tidak Memberikan Beban di Luar Kemampuan Manusia.
Memberikan beban di luar kemampuan manusia (taklif ma la yutaq) adalah bertentangan dengan paham berbuat baik dan terbaik. Hal ini bertentangan dengan paham mereka tentang keadilan Tuhan. Tuhan akan bersifat tidak adil kalau ia memberi beban yang terlalu berat kepada manusia.
b.      Pengiriman Rasul-Rasul
Bagi aliran Mu’tazilah, dengan kepercayaan bahwa akal dapat mengetahui hal-hal gaib, pengiriman Rasul tidaklah begitu penting. Namun, mereka memasukkan pengiriman Rasul kepada umat manusia menjadi salah satu kewajiban Tuhan. Argumentasi mereka adalah kondisi akal yang tidak dapat mengetahui setiap apa yang harus diketahui manusia tentang Tuhan dan alam gaib. Oleh karena itu, Tuhan berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia dengan mengirimkan Rasul. Tanpa Rasul, manusia tidak akan memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia dan di akhirat nanti.
c.       Kewajiban Menepati Janji dan Ancaman.
Janji dan ancaman merupakan salah satu dari lima dasar kepercayaan aliran Mu’tazilah. Hal ini erat hubungannya dengan dasar keduanya, yaitu keadilan. Tuhan akan bersifat tidak adil jika tidak menepati janji untuk memberi pahala kepada orang yang berbuat baik, dan menjalankan ancaman bagi orang yang berbuat jahat.
Prinsip janji dan ancaman yang dipegang oleh kaum mu’tazilah adalah untuk membuktikan keadilan Tuhan sehingga manusia dapat merasakan balasan Tuhan atas segala perbuatannya. Disinilah peranan janji dan ancaman bagi manusia agar tidak terlalu terlena menjalankan kehidupannya.
                        Ajarannya adalah :
1.       Orang mukmin yang berdosa besar lalu mati sebelum tobat ia tidak akan mendapat ampunan Tuhan.
2.       Di akhirat tidak akan ada syafaat sebab syafaat berlawanan dengan al-wa’du wal wa’id.
3.       Tuhan akan membalas kebaikan manusia yang telah berbuat baik dan akan menjatuhkan siksa terhadap manusia yang melakukan kejahatan.[3]

2.      Aliran Asy’ariyah
                        Bagi kaum Asy’ariah ini, Tuhan berkuasa dan berkehendak mutlak dan Tuhan memang tidak terikat kepada apa pun, tidak terikat kepada janji-janji, kepada norma-norma keadilan dan sebagainya.[4] Selain itu bagi mereka perbuatan-perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan, tujuan dalam arti sebab yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu.
                        Dalam pada itu pula menurut aliran Asy’ariyah, faham kewajiban Tuhan berbuat baik dan terbaik bagi manusia, sebagaimana yang telah dinyatakan aliran Mu’tazilah, tidak dapat diterima karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan yang mereka anut. Dengan demikian, aliran Asy’ariyah tidak menerima faham Tuhan mempunyai kewajiban. Al-Ghazali ada menyatakan, perbuatan-perbuatan Tuhan bersifat tidak wajib (ja’iz) dan tidak satu pun daripadanya yang mempunyai sifat wajib.
                        Karena percaya pada kekuasaan mutlak Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban apa-apapun. Disamping itu, aliran Asy’ariah menolak kewajiban Tuhan dalam pengiriman Rasul. Hal itu bertentangan dengan keyakinan mereka bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap manusia.
Aliran Asy’ariyah juga berargumen Tuhan tidak mempunyai kewajiban menepati janji dan menjalankan ancaman yang tersebut Al-Qur’an dan Hadis. Di sini timbul persoalan bagi Asy’ariyah karena dalam Al-Quran dikatakan dengan tegas bahwa siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka. Untuk mencegah kata-kata Arab “man, alladzina” dan sebagainya yang mengambarkan arti siapa, diberi Interpretasi oleh As-Asy’ari, “bukan semua orang tetapi sebagian”. Dengan demikian kata siapa dalam ayat “Barang siapa menelan harta anak yatim piatu dengan cara tidak adil, maka ia sebenarnya menelan api masuk ke dalam perutnya”, mengandung arti bukan seluruh, tetapi sebagian orang yang berbuat demikian. Adapun yang sebagian lagi akan terlepas dari ancaman atas dasar kekuatan dan kehendak mutlak Tuhan. Dengan interpretasi demikianlah, Al-Asy’ari mengatasi persoalan wajibnya Tuhan menepati janji dan menjalankan ancaman.
                        Al-asy’ari berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun. Tuhan tidak wajib memasukkan orang, baik ke surga ataupun neraka. Semua itu merupakan kehendak mutlak Tuhan, sebab Tuhanlah yang berkuasa dan segala-galanya adalah milik Allah. Jika Tuhan memasukkan seluruh manusia ke dalam surga, bukan berarti ia tidak adil. Sebaliknya jika Tuhan memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka, bukan berarti ia zhalim. Tuhan adalah penguasa mutlak dan tidak ada yang lebih kuasa. Ia dapat dan boleh melakukan apa saja yang dikehendakinya.[5]
3.      Aliran Maturidiyah
                        Kaum mu’tazilah, sebagaimana diketahui menganut paham bahwa Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap manusia. Kewajiban-kewajiban Tuhan itu pada dasarnya berorientasi kepada keharusannya untuk berbuat apa yang baik bahkan apa yang terbaik bagi manusia.[6]
                        Dalam memahami konsep perbuatan Allah ini, terdapat 2 perbedaan pendapat antara Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah Bukhara. Aliran Maturidiyah Samarkand, yang juga memberikan batas kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, berpandangan bahwa perbuatan Tuhan hanyalah menyangkut hal-hal yang baik saja. Maka dengan demikian, Tuhan mempunyai kewajiban melakukan hal yang baik bagi manusia. Oleh itu, pengiriman Rasul dipandang Maturidiyah Samarkand sebagai kewajiban Tuhan.
                        Adapun Maturidiyah Bukhara memiliki pendapat yang sama dengan kelompok Asy’ariyah mengenai faham bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Badzawi, Tuhan pasti menepat janji-nya, seperti member ganjaran kepada orang yang melakukan kebaikan, walaupun Tuhan mungkin saja membatalkan ancaman bagi orang yang berdosa besar. Manakala pendapat yang dikemukakan oleh golongan Maturdiyah Bukhara tentang pengiriman Rasul, sesuai dengan faham mereka tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin saja.
                        Aliran Samarkand memberi batasan pada kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan sehingga mereka menerima faham adanya kewajiban-kewajiban bagi Tuhan, sekurang-kurangnya kewajiban menpati janji tentang pemberian balasan dan pemberian hukuman.
                        Adapun dalam hal memberatkan beban kepada manusia di luar batas kemampuannya, yang menerima konsep ini adalah kelompok Maturidiyah Bukhara menerimanya. Tidaklah mustahil meletakkan kewajiban-kewajiban yang tidak bisa dipikul atas diri manusia kata Al-Bazdawi. Sebaliknya golongan Samarkand mengambil posisi yang hampir dengan Mu’tazilah.
                        Manakala mengenai pengiriman Rasul, aliran Maturidiyah kalangan Bukhara, bersesuaian dengan faham mereka yang sama dengan aliran Asy’ariyah. Pengiriman Rasul menurut mereka, tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin sahaja. Adapun golongan Samarkand berpendapat tentang persoalan ini, mereka sefaham dengan Mu’tazilah mengenai wajibnya pengiriman Rasul yang telah dinyatakan oleh Al-Bayadi.
                        Mengenai kewajiban Tuhan memenuhi janji dan ancaman-nya, golongan Maturidiyah Bukhara tidak sefaham dengan aliran Asy’ariyah. Menurut mereka, sebagaiman yang dijelaskan oleh Bazdawi, tidak mungkin Tuhan melanggar janji-Nya untuk memberi ganjaran kepada orang yang melakukan perbuatan baik. Tetapi, bisa saja Tuhan membatalkan ancaman untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat.
                        Adapun menurut golongan Maturidiyah Bukhara, Tuhan tidak mungkin mengkhianati janji untuk memberi upah kepada orang yang berbuat baik. Manakala golongan Maturidiyah Samarkand  mempunyai pendapat yang sama dengan aliran Mu’tazilah bahwa upah dan hukuman Tuhan pasti terjadi kelak.
Walaupun berbeda, Maturidiyah Bukhara dan Maturidiyah Samarkand tetap sepakat bahwa perbuatan Tuhan mengandung kebijaksanaan (hikmah), baik dalam penciptaannya maupun dalam perintah dan larangannya.[7]
















BAB III
SIMPULAN
                        Perbuatan Allah ialah setiap kejadian yang berlaku di alam ini dengan kehendak dan iradah Allah SWT. Contohnya ialah kejadian siang dan malam, bencana alam, pasang surut lautan dan lain-lain adalah di bawah kekuasaan Allah.
Perbandingan antara aliran ilmu kalam terhadap perbuatan Allah:
1.      ALIRAN MU’TAZILAH
a.          Kewajiban tidak memberikan beban di luar kemampuan manusia.
Mu’tazilah mengatakan ini karena bertentangan dengan faham berbuat baik dan terbaik. Hal ini bertentangan dengan faham mereka tentang keadilan Tuhan, Tuhan akan bersifat tidak adil kalau ia memberi beban yang terlalu berat kepada manusia.
b.         Kewajiban Mengirimkan Rasul.
Mu’tazilah mengatakan tanpa Rasul, manusia tidak akan memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia dan di akhirat nanti.
c.          Kewajiban Menepati Janji (Al-Wa’d) dan Ancaman (Al-Wa’id).
Janji dan ancaman merupakan dari lima dasar kepercayaan aliran Mu’tazilah. Selanjutnya keadaan tidak menepati janji dan tidak menjalankan ancaman bertentangan dengan maslahat dan kepentingan manusia, oleh karena itu menepati janji dan menjalankan ancaman adalah wajib bagi Tuhan.
2.      ALIRAN ASY’ARIYAH
Mereka mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban seperti yang dikatakan Mu’tazilah, mereka mengatakan bahwa Tuhan dapat berbuat sekehendak-Nya terhadap makhluk. Seperti yang dikatakan Al-Ghazali, perbuatan-perbutaan Tuhan bersifat tidak wajib (ja’iz) dan tidak satupun darinya mempunyai sifat wajib.


3.      ALIRAN MATURIDIYAH
Ada dua  pandangan yaitu :
a.       Maturidiyah Samarkand mengatakan bahwa Perbuatan Tuhan hanyalah mengangkut hal-hal yang baik saja, demikian juga pengiriman Rasul adalah kewajiban Tuhan.
b.      Maturidiyah Bukhara mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban, namun mereka berkeyakinan seperti yang dijelaskan oleh Badzawi Tuhan pasti menepati janji-Nya, seperti memberikan upah pahala bagi yang berbuat baik dan sebaliknya, dan mengenai pengiriman Rasul bukan merupakan kewajiban bagi Tuhan hanya bersifat mungkin saja.





















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad, Tauhid ilmu kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2009
Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Jumanatul Ali Alquran dan                              terjemahannya, Bandung: Jumanatul Ali Art, 2004
Karim, Muhammad Nazir, Dialektika Teologi Islam, Bandung: Penerbit                              Nuansa, 2004
Rozak, Abdul, dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia: Bandung,                                     20011








                [1] Abu Hamid Al-Ghazali, Tauhidullah (Risalah Suci Hujjatul Islam), 1998, Surabaya:                                  Risalah Gusti
                [2] Abdur Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, 2011, Pustaka Setia: Bandung, hal.153
            [3] Muhammad Ahmad, Tauhid ilmu kalam, 2009, Bandung: Pustaka Setia, hal.169
                [4] Abdur Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, 2011, Pustaka Setia: Bandung, hal.153
                [5] Muhammad Ahmad, Tauhid ilmu kalam, 2009, Bandung: Pustaka Setia, hal.181
                [6] Muhammad Nazir Karim, Dialektika Teologi Islam, 2004, Bandung: Penerbit Nuansa, hal.    171
                [7] Muhammad Ahmad, Tauhid ilmu kalam, 2009, Bandung: Pustaka Setia,  hal.190